Film

Kenapa Harus Bule?

kenapa harus bule

Definisi kecantikan perempuan untuk orang Indonesia selalu diidentifikasikan sebagai seorang yang berkulit putih mulus, tinggi, hidung mancung dan langsing. Padahal, tak semua perempuan Indonesia memiliki definisi kecantikan yang selalu diumbar tersebut.

Perempuan Indonesia mayoritas berkulit sawo matang dengan tinggi sangat standar sering menjadi bahan keluhan banyak perempuan tanpa melihat sisi positifnya. Dalih ingin memperbaiki keturunan, sebagiannya berlomba untuk mendapatkan pendamping dari ras kaukasoid.

Hal ini tergambar dalam Film “Kenapa Harus Bule?” Yang disutradarai Andri Cung dengan produser Nia Dinata. Diproduksi oleh Viu Pitching Forum Indonesia yang mewadahi karya anak bangsa.

Setting film di Jakarta dan Bali dengan mengambil atmosfer kehidupan yang penuh persaingan dan hedonisme. Menurut Andri Cung dan Nia Dinata, kehidupan dengan atmosfer tersebut sengaja diangkat untuk menyentil masyarakat yang saat ini sensitif dan penuh judgement. Padahal masih banyak yang tak diketahui permasalahannya.

Film ini dibintangi oleh Putri Ayudya sebagai pemeran utama memerankan Pipin Kartika yang ngebet ingin punya suami seorang bule dan kepolosan sikapnya membuat gemas Arik (Michae Kho) sahabat masa kecilnya. Pipin kerap dikerjai oleh bule yang hanya ingin memanfaatkan dirinya. Uniknya, Pipin masih punya sikap menjaga diri.

Hingga akhirnya Arik mengenalkan dengan bule samaran yang diperankan Natalius Chendana, padahal bule tersebut adalah Buyung yang juga teman masa kecilnya. Namun Pipin tak mengenalinya. Di tengah perbincangan, Pipin kepincut bule beneran bernama Gianfranco Battagila (Cornelio Sunny) yang sedang berkunjung ke kafe milik Buyung. Mereka berkenalan dan berlanjut kencan.

Acara kencan Pipin tak selalu mulus, ada saja gangguan yang datang baik dari luar maupun dalam. Seperti, ulah Gianfranco yang belagak ketinggalan dompetnya sehingga tidak dapat membayar makan malamnya bersama Pipin, motor mogok yang menyebabkan Pipin harus mendorong motor tersebut dan masih banyak lagi yang membuat Pipin merasa tidak diperlakukan layak sebagai perempuan.

Pipin sudah berkali-kali diingatkan oleh Arik supaya menjauh saja dari bule itu namun Pipin merasa yakin bahwa Gianfranco adalah jodohnya. Sampai bersedia melakukan apapun yang diperintahkan Gianfranco. Termasuk disuruh membersihkan villa.

Sementara Buyung, sangat menaruh hati pada Pipin tetapi kekerasan hati Pipin membuat cinta Buyung ditolak mentah-mentah dengan alasan Buyung bukan orang bule impiannya.

Bagaimana akhirnya cinta Pipin? Berlabuh di manakah? Sebaiknya simak filmnya langsung di bioskop terdekat. Lumayan menghibur film ini. Namun disarankan tidak membawa anak. Banyak hal yang memerlukan kedewasan dalam menyelami alur cerita dan tokoh yang ada dalam film ini.

Film “Kenapa Harus Bule?” menurut Nia Dinata, sudah diproduksi sejak 1,5 tahun yang lalu dengan proses yang matang dan melibatkan talenta-talenta profesional.

Film ini tak sekadar film yang menceritakan kisah percintaan namun ada misi sosial atas lingkungan tempat kita berpijak. Di dalamnya ada pesan moral bahwa budaya timur yang direpresentasikan oleh peran Buyung, masih banyak diterapkan di Indonesia, kesantunan, kejantanan dan sikap melindungi perempuan yang patut menjadi teladan.

Sementara pesan moral lainnya, perempuan Indonesia agar bisa lebih menghargai dirinya sendiri bagaimanapun kondisi fisiknya. Ada kelebihan lain dan hal-hal yang lebih penting dari sekadar fisik.

 

Advertisements