Uncategorized

Mengatasi Tantangan Ketika Anak Memasuki Masa ABG

Lebaran tahun ini seperti biasa, saya dan keluarga besar berkunjung ke rumah-rumah saudara di Bandung. Biasanya saya langsung klik ngobrol ngalor ngidul sama sepupu-sepupu karena punya kebiasaan, sejarah masa kecil dan kesamaan-kesamaan lainnya. Rasanya lupa waktu kalau sudah ngobrol. Ketupat sama rujak yang sudah tersaji pun terlupakan hahaha….

Alay sih tapi berprestasi         Chemical Analyst

Isti Diana Sari, dulu saya tahu pas ceprot pertama ke dunia, sekarang sudah mekar bak bunga euy

Keponakan saya bertambah dan yang tahun lalu masih imut-imut sekarang sudah ABG. Sama seperti Sekar anak saya. Kali ini saya ngobrol banyak sama Intan, sepupu dari Uwa. Anaknya Isti Diana Sari sekarang sudah SMA, masuk SMAN 5 Bandung. Itu salah satu SMA negeri terbaik di sana. Dan sudah dua kali berturut-turut mendapat beasiswa. Wah keren euy!

Setelah tanya-tanya bagaimana kiat belajarnya, apakah les private atau ikut bimbingan khusus? Ternyata tidak, Isti Cuma belajar sendiri di rumah dengan bimbingan ibunya. Ketika ujian fokus belajar terus? Gak juga. Isti tetap ikutan kegiatan di Sanggar Tari dan sempat manggung di beberapa kota untuk pagelaran Adat Sunda dan di rumah suka membantu pekerjaan ibunya, seperti memasak, bersih-bersih rumah dan lain-lain. Main gadget dan online? Tetep dilakoni. “Ih kok bisa sih?” Tanya saya heran. Karena jujur saja, saya sendiri sering melarang-larang Sekar main gadget atau melakukan kegiatan lain saat musim ujian atau dalam keseharian. Sampai bawel saya melarangnya.

Menurut Intan, cara saya itu memang gak salah tapi kurang tepat…duileh….nih sepupu saya yang dulunya manja udah dewasa banget hihihi….kali ini saya yang menyimak saran dia, gak apa-apa muda atau tua bukan patokan untuk menjadikannya tempat belajar. Yang penting pengalamannya itu keren dalam mendidik anaknya. Kita lanjut ya. Menurut Intan lagi nih, ternyata Isti itu udah punya teman dekat cowok dan Intan dekat dengan doi. Hah! Saya terperanjat lagi. Memang bukan hal yang mengherankan sih ya, anak ABG pacaran tapi untuk yang satu ini saya gak sejalan hahaha….masih gak terima. Tapiii….kata Intan jika kita bisa dekat sama teman dekat anak, itu bisa meminimalisir hal-hal yang tak diinginkan lho. Misalnya, teman dekat anak gak akan berani macam-macam sama anak kita. Karena ketika kita menghargai teman anak, otomatis mereka akan segan dan berusaha berbuat baik dan gak bakalan mengecewakan. “Yang penting kita kasih pemahaman aja ke anak kita, batasan-batasan apa saja yang harus dilakukan supaya gak kebablasan. Kita kontrol dengan cara yang gak bikin bete anak. Lakukan pendekatan dengan masuk ke kehidupan mereka. Cari tahu hal-hal yang update dari aktivitas anak masa kini.” Kata Intan sambil ngulek bumbu rujak.

“Zaman sekarang gak bakalan masuk doktrin-doktrin gaya orang tua zaman baheula Ni, seperti “Jangan ini, jangan itu, awas nanti begini, kamu nantinya bakalan anu dll wahhh bisa-bisa ketinggalan kereta deh kita, anak udah ke mana-mana ngikutin perkembangan sesuai zaman, kita jalan di tempat. Sampai apa yang kita katakan gak dipahami anak-anak. Mendingan kita berusaha masuk ke kehidupan mereka sesuai kondisi sekarang. Lalu petuah-petuah orang tua zaman baheula kita olah lagi disesuaikan dengan kondisi sekarang, anak dijamin bisa memahami pesan-pesan moral itu. Gak dimungkiri, lingkungan lebih kuat memengaruhi anak Ni.” Ujar Intan meyakinkan.

Saya mengangguk-angguk. Walau selama ini saya cukup update informasi tapi terus terang saya ketinggalan menerapkan didikan yang pas sesuai kondisi sekarang. Betul kata Intan, lingkungan anak di sekolahan dan di arena nya dia memang lebih kuat berpengaruh daripada lingkungan dalam rumah. Mau gak mau ya harus ikut menyesuaikan. Dasar agama, moral dan etika tetap sesuai aturan namun cara penyampaiannya yang harus bisa sesuai dengan zaman anak kita. Gak bisa disamakan dengan zaman dulu atau zaman ketika saya kecil. Anak-anak sekarang sudah lebih kritis dan lebih maju.

Akhirnya, obrolan mengarah ke diskusi. Saya dan Intan gak menerapkan gencar belajar ketat di musim ujian atau semesteran. Jadi, pembelajaran diterapkan setiap hari. Pulang sekolah harus mengerjakan PR, mandi, sholat, makan, istirahat. Sore boleh baca-baca atau nonton. Malam sisihkan satu atau dua jam untuk belajar. Membahas pelajaran yang sudah diberikan dan yang akan diberikan besoknya. Jadi, pas  di sekolahan tinggal menyimak dan fokus tanya jawab. Pas musim ujian atau semesteran gak ada euforia “HARUS BELAJAR” Full, sampai meninggalkan aktivitas asyik lainnya atau bikin emaknya ikut-ikutan suteres nemani belajar hehehe….kalau sudah belajar banyak tiap hari, kapanpun ujian pasti mereka akan siap.

Satu hal kesamaan saya dan Intan adalah, setiap hari anak wajib ikut belajar ngaji di lingkungan rumah, karena ini fondasi yang bisa memfilter keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan kelak ketika anak saat sudah dewasa. Di pengajian itu anak tak hanya belajar baca tulis Al Qur’an namun ada ilmu-ilmu fiqih nya juga. Kenapa wajib ikut pengajian? Karena kalau belajar ngaji di rumah mereka kurang semangat karena gak banyak teman dan gak ada tantangannya. Kalau di pengajian mereka merasa tertantang saat ditest hafalan oleh gurunya.

Untuk mengalihkan kecanduan gadget atau aktivitas-aktivitas yang kurang produktif dan kurang bermanfaat, anak bisa diarahkan untuk berkarya. Sebagai pemacu semangat, tentu saja anak diberi tahu bahwa suatu saat mereka akan mendapat rewards berupa apresiasi atau materi. Tetapi yang harus kita tanamkan tentu saja mengajarkan konsisten dulu, bukan masalah imbalan.

Intan mendukung Isti ikut kegiatan pagelaran Budaya Sunda, untuk pentas di setiap daerah, dengan catatan tidak mengganggu pelajaran utama dan bisa mengatur waktu. Menurutnya, Isti jadi tak punya waktu lagi buat bikin hal aneh-aneh karena waktunya sudah cukup padat dengan kegiatan rutin antara belajar, ngaji, ekskul dan kegiatan budaya.

Sedangkan Sekar, sekarang sedang fokus menulis juga, cita-citanya ingin bikin buku, sekarang sedang menyicil draf. Selain itu Ia ikut kegiatan ngaji dan bikin kerajinan dari kain perca di rumah. Ditambah selalu bantu ibunya memasak hehehe….

 

Sekar, sekarang baru masuk SMP dan lagi ngumpulin draf buku

Kesimpulannya, mendidik dan membimbing anak intinya harus lebih banyak porsinya di rumah bersama orang tua. Dan orang tua harus bisa menyelami kehidupan anak. Idealisme dan semua petuah, pesan moral serta aturan-aturan harus mampu kita olah dengan bahasa yang mudah dipahami anak zaman sekarang. Uraikan dengan logis, bukan menakut-nakuti. Tak perlu banyak melarang tapi arahkan anak ke segala sesuatu yang tepat tanpa doktrin yang menyeramkan. Cukup beri pengertian dan biarkan anak menelaahnya. Maka mereka akan paham maksud kita.

 

 

 

Advertisements
Uncategorized

Komitmen Untuk Menjadi Freelancer

Photo By : pixabay.com
Photo By : pixabay.com

Photo By : Pixabay.com

“Enak mana menjadi pekerja tetap atau freelancer?” Begitu pertanyaan yang sering terlontar. Menurut saya sama saja, bedanya hanya pada soal penggunaan waktu saja. Dan menjadi freelancer sebelumnya pasti punya story yang melatarbelakangi, seperti saya.

Hobi yang sudah melekat sedari kecil itu bagaikan soulmate, mengalahkan profesi dari hasil pendidikan formal. Saya dulu kuliah mengambil jurusan Akuntansi karena dorongan orangtua, tapi saya tak menyesal. Karena dengan masuk Akuntansi, saya bisa merasakan kerja kantoran di berbagai perusahaan, mulai dari perusahaan jasa, perusahaan dagang dan PerusahaanAirline. Dari sana, saya belajar banyak meng-handle orang dan berbagai item job description alhamdulillah hasil pendidikan bisa tersalurkan selama kurun 2000-2013. Menjadi Akunting.

Hobi membaca dan menulis tetap mendominasi, sampai akhirnya saya membuat blog pribadi, tak ada pikiran bisa sampai mendapatkan pencapaian seperti sekarang. Karena saya menulis blog bertujuan hanya untuk menyalurkan hobi dan ingin banyak teman satu minat. Setelah kopi darat dengan beberapa blogger, saya menemukan banyak informasi bermanfaat dan banyak belajar dari teman-teman blogger yang sudah berpengalaman.

Proses mengais ilmu saya jalani, ada pengorbanan waktu, materi dan energi. Saya tak cukup belajar online, proses pencarian ilmu dari satu workshop ke workshop sampai tempat yang jauh sekalipun saya ikuti. Cucuran keringat ikut menjadi saksi kala naik turun metromini, menghadapi kemacetan jalan dan jarak dari jalan raya ke tempat acara lumayan jauh harus ditempuh dengan berjalan kaki lagi. Karena saya belum mampu mengalokasikan anggaran untuk membayar taksi atau ojeg untuk hadir di acara blogger. Kecuali jika sangat urgent.

Pulang dari acara-acara, saya menjadwalkan menulis langsung liputannya, karena takut lupa dan takut keburu malas. Walau Blogger tak ada editorial dan tak ada pengawas, saya membiasakan diri untuk update langsung sebagai pertanggungjawaban dan etika setelah menghadiri undangan. Saya berkomitmen menjadi blogger bertanggungjawab dan harus ada feedback nyata bagi pengundang. Agar tak mengecewakan juga tak dianggap blogger tidak konsisten.

Proporsi menulis blog lebih besar dari pekerjaan di kantor , kadang saya bolos kerja demi hadir di suatu acara blogger. Merasa tidak enak dan merasa harus fokus di satu prioritas, saya memberanikan diri untuk resign dan saya menjadi pekerja freelancer sejak akhir 2012.

Tetapi keputusan saya untuk resign bukan keputusan instant atau spontan. Ada yang saya persiapkan sebelumnya.

Berikut tips dari saya sebelum memutuskan untuk resign dari kantor atau pekerjaan tetap lainnya :

  • Tempa skill yang dimiliki, misalnya menulis, design , menari, akting, dagang, mengelola event organizer, teknisi dan lain-lain.
  • Perbanyak relasi dengan mengenal banyak orang baru, siapa tahu kesempatan dan peluang datang dari mereka. Ciptakan pertemanan yang natural, tidak dititikberatkan pada Ada maunya jadi, ada atau tidak ada peluang dari siapapun, kita harus tetap berbuat baik dan hangat.
  • Berteman baik dengan Brand atau agency pengundang acara-acara.
  • Untuk Blogger, sebaiknya ringan tangan saat ada yang meminta tolong mengelola acara atau mengisi konten non komersil.
  • Aktif di komunitas-komunitas yang diminati sesuai skill atau hobi.
  • Rajin mencari informasi terbaru tentang apapun.
  • Siapkan Proyek pertama untuk bulan pertama setelah resign.
  • Buat rencana kerja jangka pendek dan jangka panjang.
  • Siapkan mental juga ketika orang lain dapat THR dari perusahaannya tempat bekerja, sementara kita cuma dapat THR dari hasil pencarian sendiri hehehe….

Pengalaman saya, enam bulan menjelang resign saya sudah menyiapkan portal khusus perempuan yang dikelola bersama empat orang teman Blogger, dari sana menghasilkan beberapa event online dan event offline dan alhamdulillah proyek-proyek lainnya menyusul.

Tips yang lainnya adalah, perbanyak jemput bola dalam mendapatkan peluang, mendekati pihak-pihak tertentu bukan sekadar tebar pesona dan cari muka, tapi lakukan pendekatan dengan karya dan attitude. Artinya, usahakan kita dapat memberikan kontribusi bagi pihak yang diajak kerjasama. Harus memberi output sesuai ekspektasi dan bisa saling melakukan simbiosis mutualisma dengan baik. Jadi, jika ada skill yang punya nilai jual, tidak salah jemput bola melalui proposal atau melalui obrolan ngopi-ngopi.

Intinya, jika kita sudah berani menawarkan nilai jual skill yang dipunyai, otomatis kita pun harus bisa lebih meningkatkan kemampuan. Caranya terus menimba ilmu dari berbagai sumber, belajar tiada henti dan banyak ngobrol dengan orang-orang berpengalaman dan punya kompetensi. Hindari teman-teman yang memancarkan energi negatif yang akan menyurutkan semangat. Berteman dengan yang mampu memacu semangat dan mau memberi masukan membangun secara jujur.

Jika sudah menjadi freelancer, terapkan hal-hal berikut :

  • Manage waktu jam kerja seperti kerja kantoran, jadi gak mentang-mentang jadi freelancer lantas bisa bangun tidur seenaknya, karena waktu adalah peluang.
  • Pisahkan uang pemasukan dari job-job yang masuk dan uang untuk keperluan pribadi.
  • Lakukan sistem gaji walau untuk diri sendiri.
  • Tabungan cadangan harus tersedia, setidaknya dari setiap pemasukan job, sisihkan 20% untuk biaya cadangan di tabungan terpisah.
  • Jika ada biaya kebutuhan rutin yang mampu dibayar untuk waktu enam bulanan atau setahun, bayarkan saja. Misalnya, SPP anak, Asuransi, biaya les dan lain sebagainya.
  • Buat pos-pos pengeluaran dengan lebih bijak.
  • Kerja keras lebih ditingkatkan.
  • Buat PSR (Personal Social Responsibility) dengan menyisihkan penghasilan untuk amal. Atau buat pelatihan / workshop gratis bagi yang membutuhkan. Karena kalau kita kerja di perusahaan ada CSR (Corporate Social Responsibility) nah kalau Freelancer ya PSR, tujuannya biar usaha dan rezeki kita jadi berkah.

Jika sudah mantap putuskan keputusan besar ini tetapi jika belum mantap, sebaiknya persiapkan secara matang. Harus tekad bulat sesuai motivasi diri, bukan karena pengaruh orang lain. Tetapi pada dasarnya, bekerja tetap atau freelancer sama saja, tergantung kita menyikapinya, semuanya adalah pilihan dan keputusan harus diambil atas motivasi diri.