Uncategorized

Karaeng Galesong Sang Penakluk Mataram

Karaeng Galesong, Sang Penakluk Mataram
Karaeng Galesong, Sang Penakluk Mataram

SINOPSIS

Keruntuhan Kerajaan Gowa, dipertegas dengan Perjanjian Bongayya yang tak memihak rakyat sedikitpun. Perjanjian ini ditandatangani oleh Raja Gowa Tallo, I Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape (Sultan Hasanuddin) dan Laksamana Cornelis Speelman (VOC). Sebagian rakyat Makasar, ada yang menerima perjanjian ini, ada juga yang ingin memberontak tapi mampu berbuat apa, hanya tunduk pasrah.

I Manindori Karaeng Galesong Karaeng Tojeng, yang dikenal sebagai Karaeng Galesong, seorang Putra Gowa, anak dari Sultan Hasanuddin dan istri ke empat Sultan Hasanuddin, I Lomo Tobo. Merasa gelisah dan tidak menerima begitu saja perjanjian Bongayya yang tak berpihak pada rakyat Gowa. Serta membuat kebijakan yang hampir menguasai sepenuhnya Kerajaan Gowa, seperti memungut pajak sagat tinggi, Kerajaan Gowa tak berhak mengatur pemerintahan dan membuat kebijakan, semua harus tunduk pada VOC.

Karaeng Galesong, pemuda tampan, gagah perkasa, yang memiliki ilmu perang dan pengetahuan yang cukup mumpuni walau terbilang masih belia. Dijaga oleh pria yang rata-rata berumur lebih dari 50 tahun, yakni Daeng Kulle, Daeng Jallo, Daeng Anging dan Daeng Bambang. Walau sudah berumur, para penjaganya masih kekar dan lincah.

Melihat kondisi tanah Gowa yang mulai dikuasai VOC, Karaeng Galesong memutuskan beranjak dari tanah kelahirannya. Ia punya prinsip bahwa dirinya lebih baik mencari jati diri dan memulihkan harga dirinya kembali sebagai Putra Gowa. Dengan berjuang kembali merebut tanah kelahirannya dengan berbagai cara. Mengingat di tanah kelahirannya belum bisa berbuat apa-apa, karena surat perjanjian sudah ditandatangani ayahnya. Ia lebih berencana berlayar ke Mataram. Karena Kerajaan Mataram punya hubungan baik dengan Kerajaan Gowa di masa Pemerintahan Sultan Agung. Tapi, Karaeng Galesong lupa bahwa sekarang Kerajaan Mataram telah dikuasai dan dikudeta oleh anak kandung Sultan Agung sendiri, yakni Amangkurat I. Yang lebih memihak VOC dan bengis terhadap rakyatnya. Bahkan menghina Sultan Hasanuddin. Sampai menyuruh datang ke Mataram dan menyembahnya. Seketika, Karaeng Galesong sadar, dan beralih rencana. Menetapkan pergi ke Mataram tetapi ingin melampiaskan dendam terhadap Amangkurat I yang telah menghina ayahnya serta memihak VOC.

Bersama lima penjaga dan prajurit Gowa yang masih ada, ia berlayar menuju Mataram, tetapi ditengah perjalanan, diikuti oleh kapal VOC. Maka rombongan Karaeng Galesong memutuskan mampir di Bima. Kekerabatan Kerajaan yang ada di Bima juga mempunyai hubungan baik dengan Kerajaan Gowa. Maka sambutan dari masyarakat Bima pun hangat kepada rombongan Karaeng Galesong. Pesta digelar dan ketika hendak melanjutkan perjalanan ke Demung, masyarakat Bima juga menyediakan perbekalan yang cukup serta kuda kuda terbaik dari Sumbawa untuk Karaeng Galesong dan para prajuritnya.

Sesampainya di Demung, Karaeng Galesong mendapat pesan dari utusan Pangeran Trunojoyo, bahwa ia dan rombongan diundang jamuan di kediamannya di Sampang Madura.Undangan dipenuhi dan Pangeran Trunojoyo mengetahui gelagat Karaeng Galesong yang menaruh dendam terhadap Amangkurat I. Hal ini dimanfaatkannya untuk bersatu menyerang Amangkurat I yang sombong dan sadis terhadap rakyatnya. Bukan hanya itu, karena alasan memihak VOC, Pangeran Trunojoyo ingin membumihanguskan Mataram termasuk Amangkurat I. Agar ada keterikatan, Pangeran Trunojoyo menikahkan Karaeng Galesong dengan putrinya, Maduretna. Dayung bersambut, karena Maduretna dan Karaeng Galesong pun saling tertarik.

Setelah pernikahannya yang begitu cepat, Karaeng Galesong bersama Pangeran Trunojoyo beserta masing-masing prajuritnya bersatu menuju barat, yakni Pajarakan Probolinggo sebagai pertahanan pertamanya dalam menabuh genderang perang terhadap Mataram. Di sepanjang perjalanan menuju Plered tempat keraton Amangkurat I, Karaeng Galesong bertemu dan bersatu dengan prajurit pimpinan Karaeng Bontomarannu, yang kerap melakukan perlawanan terhadap VOC di perairan. Juga bertemu Karaeng Mammar yang merupakan salah satu daftar pencarian VOC juga.

Keganasan prajurit Gowa yang bersatu dengan pasukan Pangeran Trunojoyo serta prajurit pimpinan Karaeng Mammar dan Karaeng Bontomarannu. Ditambah lagi pasukan dari La Tenri Lai Tosengeng dari Kerajaan Wajo, yang membantu dalam memerangi VOC. Ikut bersatu membumihanguskan Mataram yang memihak VOC. Kekuatan pasukan dan keberanian membuat kemenangan di Gegedok, Plered. Amangkurat kabur ke Batavia bersama kedua anaknya Adipati Anom dan Pangeran Puger. Mataram Takluk.

Siapakah yang akhirnya memerintah Mataram? Apakah Pangeran Trunojoyo atau Karaeng Galesong? Selanjutnya, bisa dibaca di bukunya berjudul Karaeng Galesong Sang Penakluk Mataram.

Resensi

Membaca Novel ini, saya seolah berada dalam cerita, penulisnya sangat piawai menggambarkan imajinasi. Mulai dari penggambaran tokoh, suasana tempat dan cuaca yang diceritakan. Wawasan dan sejarah pun ada nilainya, sebab bukan hanya cerita yang difokuskan dalam novel ini, ada pengetahuan sejarah seperti tahun peristiwa, tempat dan tokoh-tokohnya disebutkan dengan jelas.

Lebih surprise lagi, saya mengetahui banyak kebudayaan, kearifan lokal dan karakter Kerajaan Gowa, khususnya masyarakat Sulawesi yang tangguh, pemberani, punya harga diri yang tinggi dan punya keteguhan dalam mencapai tujuan. Kekuatan karakter dan khasirma Gowa, membuat tokoh-tokoh masyarakat di luar Gowa, sampai negara Malaysia pun yang menjadi raja di sana adalah berasal dari Gowa atau mempunyai darah Gowa. Seperti Mantan PM Datuk Musa Hitam dan Dato Sri Muh Najib.

Bukan hanya ketangguhannya, prajurit Bugis juga punya kesetiaan dan rasa empaty nya tinggi, dari sikap Karaeng Bontomarannu, Karaeng Mammar serta La Tenri Lai Tosengeng rela menghadapi maut dengan risiko apapun, maju ke medan perang. Walau hanya bersenjatakan tradisional dan menghadapi senjata pihak Mataram yang dibantu persenjataan modern VOC, tetap bisa menang karena mereka bersatu dan berani.

Di halaman 49 juga menampilkan kuliner spesial dari Bima, yang dihidangkan untuk Karaeng Galesong. Seperti hidangan ikan khas Bima Uta Karamba, Uta Maju hidangan daging rusa serta sayur Daun Kelor Uta Mbeca Roo Paronge. Luar biasa, pengetahuan ini belum tentu saya dapat jika tak membaca buku ini.

Terpenting lagi, sosok Karaeng Galesong yang arif, tegas dan membela kaumnya dengan risiko apapun, menggambarkan bahwa yang terpenting untuk dirinya adalah kebebasan rakyatnya dari belenggu penjajah dan kekuasaan tak menjadi ambisinya. Ketika maju ke medan perang, ia selalu menjadi yang terdepan dan ketika meninggalkan medan perang, ia menjadi yang terakhir. Prajurit dan rakyat benar-benar ia lindungi sepenuh hati. Ia sangat membenci pengkhianat dan tak suka dengan kamuflase.

Sosok Karaeng Galesong menggambarkan seorang pemimpin yang sempurna, apapun yang menjadi komitmen nya, ia selalu memberi contoh lebih dulu, berbuat dan mengerjakan sesuatu lebih dulu yang akhirnya menjadi teladan prajurit-prajuritnya. Ia pantang mengaku-ngaku perjuangan atau pekerjaan orang lain demi nama besarnya sendiri. Karaeng Galesong selalu ikut turun berjuang dan bekerja bersama para prajuritnya.

Sangat menginspirasi karena hal ini terjadi pada kehidupan modern saat ini, sikap Karaeng Galesong patut dicontoh pemimpin organisasi, pemerintahan atau perkumpulan apapun.


Judul Novel : Karaeng Galesong, Sang Penakluk Mataram

Penulis : Mappajarungi Manan

Penerbit : Limau Publisher

Buku ini dapat dibeli di Bukukopi ada diskon!

Advertisements
Uncategorized

Community Festival 2014, Ajang Kreativitas dan Berbagi

Jakarta, 13 Desember 2014 – Memasuki tahun ke dua Community Festival, Indosat menggelar lagi Community Festival bertajuk “United Souls” diselenggarakan di Lapangan Parkir Selatan Senayan. Kali ini, melibatkan lebih banyak komunitas dari berbagai minat dan hobi. Sesuai dengan tema yang diusung, tujuan acara ini adalah sebagai ajang interaksi sesama komunitas. Walaupun setiap komunitas berbeda satu sama lain, namun lintas komunitas dapat bersinergi untuk saling mengisi. Karena, dengan berkumpulnya berbagai komunitas, saling berbagi informasi yang lebih luas, akan melengkapi kebutuhan penunjang kegiatan dari setiap komunitas tersebut.

Presscon Community Festival 2014
Presscon Community Festival 2014

Dalam Press Conference, Toni Darusman, selaku Group Head Marketing Communication Indosat mengatakan bahwa Community Festival 2014 adalah kelanjutan dari acara serupa pada tahun lalu, yang bernama Indosat Community Fair. “Ini adalah sebagai bukti commitment Indosat dalam mewadahi kegiatan komunitas-komunitas dan menjalin hubungan baik dengan komunitas apapun.” Kata Toni.

Di Booth Emak2 Blogger, saya bersama Echa dan Mira Sahid
Di Booth Emak2 Blogger, saya bersama Echa dan Mira Sahid

Komunitas yang hadir di Community Festival 2014, diantaranya Komunitas idBlognetwork, Kumpulan Emak Blogger, Komunitas Organik, Indosat Community, Indosat Blackberry, ID-iPhone, Scooterhood, Womenpreneur, otomotif, sports, dan masih banyak lagi. Semua komunitas tak hanya memamerkan karyanya saja, sebagian ada activity asyik yang melibatkan pengunjung. Seperti photobooth, Quiz, lelang gadget dan blog competition. Yang terpenting lagi, pengunjung mendapatkan benefit berbagai informasi menarik dari setiap komunitas yang ada.Yang sebelumnya tak diketahui, jadi tahu dan berguna untuk mendukung kebutuhan informasi yang dibutuhkan. Misalnya, tentang bahan organik apa saja yang harus diperhatikan, dijelaskan oleh Komunitas Organik. Jika ingin gabung jadi pengusaha wanita, bisa tanya-tanya lebih lanjut di booth Komunitas Women Preneur. Kebetulan saya pengguna Blackberry Indosat, di sana ada booth nya, saya pun bergabung. Benefit yang didapat tak hanya oleh partisipan komunitas, pengunjung pun mendapat informasi, wawasan, hiburan dan relasi baru.

SCOOTERHOOD sedang beraksi
SCOOTERHOOD sedang beraksi

Komunitas pencinta Motor Vespa, Scooterhood, yang juga pelanggan Indosat, melakukan aktivitas parkir di Sky Dinning lantai 9 Plaza Semanggi. Dan tercatat sebagai Parkir Vespa Terbanyak diatas Atap Mall pada Indonesia Book of Record. Sore harri, sekitar pukul 15.00, Scooterhood juga melakukan atraksi di depan panggung, gabungan kreativitas manuver vespa dan memacu adrenalin mereka. Vespa yang unik dan klasik menjadi terlihat seksi.

Bukan hanya itu saja, sebagai kepedulian Indosat terhadap anak-anak yang kurang beruntung, dalam acara ini di adakan charity yang sesuai dengan tajuk United Souls dengan cara mengumpulkan donasi melalui pengumpulan tweet dari pengunjuung dengan hashtag #CommunityFestival2014 yang dikonversikan menjadi donasi Gerakan sosial Coin A Chance (CAC) .

ADA Band
ADA Band
Zigaz Band
Zigaz Band

Di panggung utama, ada hiburan mulai dari ADA Band, The Rain, Rini Idol, Drive dan Zigaz dan masih banyak penampilan seru lainnya. Keseruan ini belum berakhir, karena beberapa komunitas masih melakukan aktivitas mengasyikkan, seperti fun games dan Zombie dance, yang mengenakann kostum dan make up seperti zombie betulan.

Community Festival yang membuktikan bahwa sebuah komunitas bukanlah hanya sebagai ajang hura-hura, tapi ada kepedulian, kreativitas, kebersamaan, kekeluargaan dan eksistensi bermanfaat. Essensi untuk saling berbagi pun lebih ditekankan di setiap booth komunitas yang saya kunjungi. Misalnya, Komunitas Gen-C selalu menyajikan informasi beasiswa bagi siapapun secara update dan berkala. Mereka tak memungut bayaran atau apapun, keikhlasan mereka terbukti juga ketika salah satu membernya mengatakan bahwa diatara mereka biasanya patungan dalam membuat suatu kegiatan yang diperuntukan bagi masyarakat luas.

Community festival ini mudah-mudahan akan terus ada dan berkelanjutan agar anak muda atau komunitas-komunitas yang ada lebih produktif lagi untuk berkarya dan menciptakan wadah eksistensi yang tepat dan aman.

Uncategorized

Broken Home Is A Gift

Broken Home Is A Gift

Sinopsis

Vista, terlahir dari keluarga yang tak harmonis, ayah dan ibunya menikah pada usia yang sangat belia, keadaan ekonomi dan mental kedua orangtuanya yang belum siap untuk mengarungi bahtera rumah tangga, menimbulkan gejolak dan masalah kompleks. Ibu Vista membanting tulang demi keluarganya, sementara ayahnya belum mendapatkan pekerjaan. Sikap ayah Vista yang masih menganggur dan suka main perempuan membuat ibu Vista tersakiti. Sehingga terbawa dendam. Sampai ketika ayah Vista sudah mendapat pekerjaan dan kelakuannya berubah baik, ibu Vista tetap menaruh dendam dengan berhubungan bersama laki-laki lain dan pulang sering larut malam.

Percekcokan kedua orangtua Vista, membuatnya tertekan setiap hari di rumah. Vista tak mendapatkan kasih sayang sewajarnya, perhatian tulus bahkan semangat untuk menumbuhkan kepercayaan dirinya. Yang didapatnya hanyalah kemarahan, ejekan dan tekanan. Walau ayahnya sudah berubah baik namun yang dibutuhkan Vista adalah dekapan sang ibu yang diharapkannya bisa membimbing serta menuntunnya menjadi pribadi yang diakui. Sebab, ibunya tak jarang sering mengatai Vista bukan anaknya. Disebabkan fisik yang jauh berbeda dengan ibunya yang lebih cantik. Vista memang mengikuti gen ayahnya yang tak berkulit cerah.

Di sekolah, Vista tergolong pelajar yang pas-pasan dan sering kesiangan. Banyak gurunya yang suka melontarkan kata yang tak pantas untuknya. Karena selain sering kesiangan, dalam hal mata pelajaran pun kurang bagus.

Lingkungan rumahnya yang kurang layak, sempat membuat dirinya hampir menjadi korban kebakaran. Beruntung pengasuhnya berhasil menyelamatkan. Vista lebih dekat dan merasa bahwa ibunya adalah pengasuhnya tersebut. Karena yang mengerjakan kebutuhannya adalah pengasuhnya.

Berlanjut ke usia remaja, Vista seperti tak luput dari kondisi yang tak menguntungkannya, dalam hal belajar, belum ada kemajuan. Percekcokan kedua orangtuanya semakin menjadi, membuat konsentrasi belajarnya terpecah dan tak bisa berpikir jernih. Bahkan dalam urusan percintaan pun ia kerap mendapatkan kekerasan dari pasangannya.

Kondisi prihatin yang lengkap dalam kehidupan Vista, tak ia biarkan. Vista bangkit dengan semangat dan dorongan dari dirinya sendiri. Ia tak mau lagi membuang waktu. Teman-teman lama nya yang sering berprestasi ia hubungi, untuk sekadar menyemangati dan menghidupkan materi-materi pelajaran di sekolahnya. Belajar lebih keras dengan tekad yang kuat. Ia mengesampingkan dulu masalah pribadi di rumahnya, tentang keluarganya yang broken home. Hingga berhasil meraih ranking 3 dan menjadi salah satu siswa teladan.

Memasuki bangku kuliah, Vista bertemu kembali dengan kondisi prihatin, kekerasan dari kekasihnya yang tak mau memutuskannya. Ditambah perceraian orangtuanya pada saat mendekati pembuatan skripsi. Membuat Vista kembali tertekan. Tetapi, Vista tak ingin semua itu terjadi berulang-ulang. Dirinya menganggap bahwa ia layak hidup dan dihargai. Dirinya adalah ciptaan Yang Maha Kuasa, sama dengan yang lainnya hanya nasib yang membedakan. Ia tetap berdiri tegak, berusa menghalau segala permasalahan dengan kerja keras mengukir prestasi dan terus belajar. Bahkan berusaha memaafkan kedua orangtuanya yang telah membuat hidupnya mengalami banyak hambatan. Semua kepahitan yang pernah dijalaninya dijadikan pelaran hidup termahal. Proses tersebut membuatnya mampu hidup mandiri dan menjadi pekerja keras.

Vista menjadi pribadi yang tangguh, memberikan energi positif ke sekelilingnya, tak heran jika ia berhasil lulus kuliah Jurnalistik dengan predikat Cumlaude. Bekerja di posisi yang top dan mengukir prestasi dari karyanya. Keberhasilan apa sajakah yang diraih Vista si anak broken home ? Bisa disimak dalam bukunya ya.

Resensi

Menyelami pribadi Vista dalam buku karya Athira Cedrica yang terinspirasi dari kisah nyata ini, sungguh tak mudah bagi Vista untuk membuat singkronisasi kehidupannya yang berliku penuh ranjau, baik di rumah, sekolah dan lingkungan tempat tinggalnya. Berangkat dari keluarga tidak harmonis, membuat ia harus bekerja dan berpikir keras untuk menghadapi tuntutan hidup yang dijalaninya. Untuk hal paling sederhana pun ia mengalami kesulitan, misalnya untuk berangkat sekolah harus kesiangan setiap hari karena jarak yang jauh, kekurangan tidur karena kerap mendengar pertengkaran orangtuanya dan masih banyak lagi.

Belum lagi, olokan guru yang tak semestinya, bahkan dari ibu kandungnya sendiri. Bisa dibayangkan betapa luka batinnya semakin dalam. Tetapi kegigihan Vista untuk tetap bertahan dalam idealisme nya sendiri, membuatnya terselamatkan adari jerat narkoba dan aktivitas aktivitas anak muda yang terlarang lainnya. Ia mampu membentengi diri, walau kehidupannya kacau dan godaan dari teman-temannya sangat beragam.

Vista memilih untuk bangkit dan mencari cara yang baik untuk mengubah nasibnya. Walau anak yang berangkat dari keluarga tak harmonis dan kerap dicap sebagai anak Broken home, namun ia selalu menelaah segala sesuatu dengan menjabarkan permasalahannya dengan menghasilkan solusi. Sehingga ia tak terjerumus. Pikirannya panjang dan selalu ada pertimbangan sebab akibat. Ia pemaaf dan menganggap orang-orang yang pernah menyakitinya adalah guru kehidupan yang membuatnya menjadi tangguh dan bijak menghadapi keadaan. Pemikiran-pemikiran dirinya dari jalan hidup yang telah dilaluinya, terkumpul dalam bab terakhir buku ini. Berisi motivasi dan solusi.

Isi buku ini, menunjukkan bahwa anak Broken home tak diharapkan oleh siapapun, status, nasib dan kredibilitas seseorang tak bisa diukur dari asalnya seseorang. Apakah dari keluarga harmonis atau Broken Home. Yang menentukan keberhasilan adalah murni usaha pribadi masing-masing. Usaha, kerja keras, belajar, berdoa dan keyakinan setiap individu lah yang berperan besar. Siapapun akan berhasil dan mewujudkan cita-citanya jika mau melakukan prosesnya. Jadi, dalam buku ini Vista menganggap Broken home is a Gift karena telah memberinya banyak pelajaran berharga, guru mental yang membuatnya jadi seteguh baja dan berbagai hikmah yang dipetiknya. Bukti bahwa kondisi bagaimanapun bisa dikelola dengan niat baik sehingga hasilnya pun baik.

Judul Buku : Broken Home Is A Gift

Penulis : Athira Cedrica

Penerbit : Limau Publisher

Halaman : 157 lembar

Uncategorized

Kolaborasi Asyiiik Komunitas Kreatif

Jakarta, 6 Desember 2014 lalu, saya tak melewatkan even yang digelar di Lobby Berlian Blok M Square Jakarta. Menghadirkan beberapa komunitas, seperti Komunitas pengrajin sandal bandol, Komunitas pengrajin pelepah pisang, Komunitas Pematung Batu dari Mojokerto, Komunitas Pengrajin Topi Bambu, Komunitas Paguyuan Karuhun Sunda, Komunitas Kreasi Musik Sampah (Kresipah) dan Komunitas Penulis dan Sastra (PEDAS).

Acara digagas oleh beberapa penggiat komunitas, seperti Karel Anderson, Viky Sianipar, Bram Kushardjanto (Gelar Nusantara), Bob Merdeka ( Ma Icih) dan Eko Supriyanto (Pelaku seni dan tari) sebelumnya diselenggarakan workshop kolaborasi Asyiiik (4/12) yang lalu. Semua booth komunitas mengundang perhatian saya, pertama saya datangi booth Komunitas Penulis dan sastra (PEDAS) yang digawangi oleh Elisa Koraag. Di sana dipamerkan beberapa buku karya para membernya, Komunitas Pedas ini, selalu mengadakan aktivitas berbau seni disamping menulis cerita dan puisi. Membacakan puisi dalam sebuah pementasan adalah jiwa mereka. Sehingga terlihat nyawa nya ketika mereka membacakan puisi bait demi bait.

Salah satu karya lukisan pelepah pisang
Salah satu karya lukisan pelepah pisang

Lalu saya mengunjungi booth Komunitas Pengrajin Pelepah Pisang. Bukan semata-mata membuat karya dari pelepah pisang. Tapi ada estetika nya, menurut Agus Permana, ketua komunitas ini berkata “Karya ini dibuat sebagai pemuas rasa sendiri saja tadinya, tak ada tujuan komersil yang menggebu. Tetapi melihat antusias pemesan, akhirnya kami buat dengan sepenuh hati. Misalnya, pakai pigura dan dikemas menarik.” Lukisan-lukisan pelepah pisang ini tak terlihat tempelan pelepah pisang, seperti benar-benar dibuat dengan cat minyak atau arsiran pensil.

Menurut Agus, pemilihan komposisi warna dan teknik estetika yang diutamakan. Maka jadilah karya yang hidup, walau hanya dari pelepah pisang kering. Bahan yang digunakan untuk membuat lukisan ini, hanya triplek sebagai media nya, pelepah pisang kering, lem dan gunting. Selebihnya pigura untuk membingkai lukisan. Sementara ini yang memesan baru dari wilayah Indonesia saja. Sayang sekali komunitas ini tak mempunyai website untuk mempromosikan karyanya.

Komunitas Pengrajin Batu dari Mojokerto
Komunitas Pengrajin Batu dari Mojokerto

Kemudian beranjak ke booth Komunitas Pematung Batu Mojokerto, di sana dipamerkan bagaimana cara memahat patung asli dari batu. Karya mereka tak hanya dilirik oleh konsumen Indonesia saja, negara tetangga seperti Thailand, Vietnam dan beberapa negara Eropa, kerap memesan karyanya ini. Beda dengan Komunitas Topi Bambu, karena sebagian pengrajinnya adalah Blogger, karya mereka berhasil dipromosikan dalam blog serta website mereka. Topi Bambu mereka berhasil sampai pasar mancanegara dan telah meraih penghargaan rekor dunia sebagai topi bambu terlebar.

Booth Komunitas Topi Bambu
Booth Komunitas Topi Bambu
Mencoba Topi Bambu keren
Mencoba Topi Bambu keren

Baru-baru ini, Topi Bambu mendapatkan pesanan partai besar dari Negara Perancis. Komunitas Topi Bambu bermarkas di Tangerang Banten ini, bisa diketahui lebih detail di topibambu.com Irama yang biasa mengiringi pencak silat mengalun dari arah panggung utama, saya dan teman-teman yang hadir langsung menghampiri sumber musik. Kerinduan saya akan musik ini terobati, karena musiknya adalah musik tradisional Sunda yang mengingatkan saya akan kampung halaman.

Sisingaan dari Subang
Sisingaan dari Subang

Belum selesai rasa gembira saya, ada Sisingaan dari Subang, pertunjukan ini mengingatkan saya ke masa kecil. Dulu, di Bandung jika ada yang disunat, suka ada gelaran ini jika yang punya hajat orang berada. Biasanya disertai pawai dan tarian meriah lainnya. Menurut ketua rombongan pentas ini, Sisingaan sejarahnya adalah sebagai semangat dalam upaya mengalahkan penjajah di Bumi Indonesia dengan perumpamaan, singa adalah raja hutan yang semangatnya kuat dapat mengilhami para pribumi untuk menentang penjajah.

Pembacaan Puisi Komunitas PEDAS
Pembacaan Puisi Komunitas PEDAS

Selanjutnya, Komunitas PEDAS membacakan puisinya dengan alunan musik yang selaras dengan bait-bait puisi bernyawa karya mereka. Acara ini sangat menimbulkan banyak inspirasi serta persatuan yang kental. Walau antar komunitas berbeda tapi bisa saling mengisi dan melengkapi. Misalnya, Komunitas Kreasi Musik Sampah yang berkolaborasi dengan pentas Sisingaan, keduanya dapat menciptakan pertunjukan yang keren secara kolaborasi. Begitupula saat Komunitas PEDAS membacakan puisi, diiringi musik Kresipah sangat unik. Acara seperti ini Kolaborasi Asyiiik semoga saja menjadi inspirasi bagi banyak kawula muda atau bagi komunitas-komunitas yang ada, agar bisa bersatu dan saling bersinergi. Seperti di Kolaborasi Asyiiik.

Uncategorized

Punya Blog Lebih Dari Satu, Pentingkah?

Mengelola Blog Lebih Dari Satu

Bagaimana mengurusnya? Satu blog saja jarang update dan kurang maintenance. Begitu ucap seorang teman saat membahas kepemilikan akun blog lebih dari satu. Jika niatnya Cuma gaya dan asal membuat tanpa tujuan, ungkapan teman tersebut sangat benar. Tetapi membuat akun blog lebih dari satu, tentu ada tujuan yang bisa membantu optimalisasikan akun blog yang sudah dimiliki.

Alasan seseorang membuat akun blog lebih dari satu :

1. Branding : Bagi yang ingin mem-branding diri sebagai spesialisasi kategori blog tertentu misalnya, Fashion Blogger, Kuliner, Tekno, Kesehatan, Lingkungan, Bahasa Inggris, Travel dan lain-lain, akan lebih mantap jika kategori tersebut bisa dibuat dalam satu blog khusus, tak disatukan dalam blog random. Sehingga pihak yang mencari referensi atau yang ingin mengajak kerjasama, mudah menemukan kategori blog sesuai yang dibutuhkan.

2. Kapasitas : Jika ide dan bahan tulisan blogger tak cukup ditampung dalam satu blog, blogger tentu saja harus membuat akun blog lagi, agar blog yang satu tak overload apalagi jika kebanyakan posting review produk, bisa diseimbangkan dengan membagi bahan di beberapa blog yang dikelola. Sehingga satu blog tidak seperti etalase atau toko online.

3. Monetize : Ada beberapa upaya untuk mendatangkan income pasive yang membutuhkan banyak blog, misalnya untuk adsense, pay per click dan lain-lain.

Platform Blog apa saja yang layak dibuat untuk melengkapi blog utama?

Setiap platform mempunya plus minus, blogger bebas saja jika ingin membuat blog lebih dari satu. Bisa satu platform yang jenisnya sama atau kombinasi. Tetapi saya yang mempunyai 6 akun blog, lebih suka kombinasi. Dengan demikian, saya mendapatkan banyak benefit dari berbagai platform tersebut. Selain menjadi lebih kaya wawasan, beda idealisme dan teknik di setiap platform pun akan memberi sudut pandang yang luas.

Misalnya, saya punya akun di beberapa platform berikut :

1. Blogdetik : Menulis di Blogdetik, keuntungan yang bisa diraih adalah ketika update blog, tak harus susah payah mempromosikan tulisan yang dibuat. Karena tulisan terbaru kita langsung muncul di halaman depan agregator. Jika tulisan kita headline, akan nampang di urutan teratas dalam waktu yang lama. Bahkan bisa nampang di beberapa kanal detik.com sesuai kategori tulisan. Misalnya jika menulis hal berbau tekno bisa nampang di detikinet, kuliner di detikfood, entertainment di detikhot dan berita aktual di detiknews. Manfaatnya tak sebatas itu, selain eksis, blog tersebut akan didatangi pengunjung yang banyak jika tulisan berhasil Headline atau lolos dimuat di salah satu kanal detik.com

2. Kompasiana : Keuntungannya sama dengan Blogdetik, kelebihan Kompasiana, keterbacaannya lebih luas karena beberapa kategori ditampilkan di halaman muka agregator dan jika headline, bisa masuk di beberapa kanal kompas.com. Menulis di Kompasiana, bisa belajar menulis reportase a la jurnalis. Karena Kompasiana ini blog rame-rame, jadi gak bisa pasang banner di sidebar blog, tak bisa mengubah template, theme atau utak atik lain-lainnya, di sana hanya untuk menulis dan sharing.

3. Blogspot dan WordPress : Kalau kedua akun ini, secara idealisme tak ada aturan yang harus mengikuti syarat dan ketentuan dari induk yang punya platform. Dan untuk kedua akun ini, tak akan tersorot sebagai platform blog kompetitor. Bisa utak atik theme dan tampilan blog yang lebih ciamik. Untuk Blogspot, tak ada agreagtor yang bisa menampung tulisan terbaru di halaman muka, untuk mendapatkan banyak pengunjung, maka blogwalking diharuskan. Kedua platform ini juga punya keuntungan bisa di share ke agregator Vivalog. Salah satu kanal di Vivanews yang menampilkan tulisan para blogger. Boost traffic pun tinggi. Caranya buat akun vivalog dulu. Setelah itu ikuti instruksi berikutnya.

4. Domain sendiri : Lebih profesional dan kesempatan untuk mendapatkan prospek lebih luas serta tak mengikat idealisme siapapun. Tampilan blog bisa diutak atik sesuai selera, bandwith bisa diatur sesuai kebutuhan, dan benefitnya lebih kurang sama dengan Blogspot dan WordPress namun blogwalking dan seringnya sharing di berbagai sosial media harus dilakukan juga untuk mendatangkan banyak pengunjung. Untuk domain sendiri bisa share di vivalog.

Plus minus dari beberapa platform blog di atas, bisa jadi pertimbangan para blogger untuk mengelola blog dari jenis apa. Mengisi konten masing-masing blog bisa disesuaikan dengan kondisi platform tersebut. Kalau saya, jika menghadiri suatu acara, satu topik bisa dibuat beberapa sudut pandang. Berikut cara, mengelola blog yang dimiliki lebih dari satu :

1. Buat jadwal untuk update masing-masing blog, biar tidak lupa buat di catatan khusus pengelolaan blog.

2. Breakdown Tema Jika mendapat bahan tulisan dari suatu acara, bisa dibuat beberapa sudut pandang penulisan. Misalnya, ketika menghadiri liputan launching susu anak, di sana pasti ada narasumber yang berbicara, paparan narsum bisa dibuat tulisan reportase atau opini, saya biasanya tulis di blogdetik atau blogspot, suasana acara bisa diposting tersendiri sebagai reportase di Kompasiana dan ulasan produk bisa ditulis juga untuk satu tema tersendiri. Jadi ketika mendapat bahan tulisan dari satu acara, sudah dapat 3 draf dengan sudut pandang yang berbeda. Jangan khawatir akan mati gaya atau kehabisan bahan.

3. Manfaatkan waktu luang saat di jalan, di antrean panjang, saat menunggu. Ketika muncul ide untuk menulis, tuliskan bahan tersebut dalam catatan kecil atau record dalam gadget. Di rumah bisa dikembangkan lagi. Jadi, poin-poin yang dibuat saat di mana pun, bisa menjadi bahan stok tulisan.

4. Mengembangkan Inspirasi lain menjadi karya sendiri dengan begini, tema-tema yang dibagikan akan lebih berwarna dan tak sekadar ikut-ikutan, ketika terinspirasi oleh tulisan orang lain, buatlah sudut pandang berbeda dengan mendomnasikan opini dan pemikiran sendiri. Maka, inspirasi dari tulisan orang lain bisa menjadi karya original kita. Stok tulisan, jadinya nambah lagi kan?

Terus apa dong keuntungannya membuat blog di platform yang mempunyai media seperti Blogdetik dan Kompasiana? Oh banyak…….ini dia :

1. Bisa ikutan acara yang diadakan secara eksklusif oleh detik atau Kompas, karena biasanya blogger yang ngeblog di sana yang diprioritaskan boleh ikut. Bahkan untuk Kompasiana, akun Kompasiananya harus terverifikasi baru bisa ikutan acaranya. Baik Offline maupun Online. Misalnya, sekarang Blogdetik sedang mengadakan program menulis setiap hari, tapi harus di akun blogdetik dan hadiahnya semua bernilai.

2. Ada saatnya, kedua platform media tersebut suka mengadakan proyek job menulis dengan suatu brand, nah para blogger yang tergabung biasanya suka diajakin, baik via email atau inbox. Jadi, ketika mengisi data di profil platform blog tersebut harus lengkap, siapa tahu diajakin kerjasama. Saya sudah pernah mengalaminya.

3. Bisa eksis di situs media induknya sewaktu-waktu, jika tulisan Headline kita berhasil lolos ke kanal-kanal tertentu di masing-masing media. Bisa membantu untuk branding lebih cepat.

4. Relationship lebih luas, jika memerlukan sponsorship, publikasi sesuatu, kalau kenal sama admin dan orang-orang yang ada di dalam media platform tersebut, biasanya lebih mudah minta tolong. Tentu saja harus saling memberi benefit antar kedua belah pihak.

Pertimbangan mempunyai akun blog lebih dari satu tentu saja banyak manfaatnya, tetapi jangan asal membuat saja. Harus dikelola dengan baik dan buat manajemen waktu yang tepat. Selain itu optimasikan semua blog yang dimiliki dengan belajar tanpa batas dan isi dengan konten bermanfaat.

Menulis blog jangan semusim, jangan karena ada program berhadiah di update terus setelah program selesai, berdebu lagi, dihinggapi sarang laba-laba lagi. Padahal akan berkesinambungan manfaatnya jika dikelola dengan baik walau sedang tak ada program.