Uncategorized

Belajar Public Speaking Dari Ira Koesno

125f2d5734352936649fd003544cb9fb_img-20140813-08274

Sebelum membahas materi Public Speaking yang diberikan Ira Koesno, mantan presenter dan News Anchor di SCTV ini, mari kita kenalan dulu dengan beliau. Masih ingatkah di era penghujung 90an saat menyaksikan berita siang di SCTV, Ira Koesno selalu hadir memberikan informasi-informasi aktual dengan lugas dan gayanya yang khas. Saat itu rambutnya yang bermodel shaggy panjang sangat serasi dengan balutan busana yang trendi formal. Selalu saya nantikan berita-berita yang dibawakannya. Sempat berangan ingin bertemu Ira Koesno dalam satu kesempatan, Wow! 17 tahun kemudian dari sejak itu, akhirnya saya bersua dan bertatap muka langsung. Bahkan memperoleh ilmu bermanfaat dari beliau yang merupakan pakar dibidangnya. Sekarang Ira Koesno menjadi praktisi PR dan media dan menjadi narasumber dalam berbagai workshop terkait.

Ira memberikan materi ini dalam acara workshop Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk Blogger dan Netizen. Di Hotel Harris, dilaksanakan setelah acara workshop JKN di hari pertama. Jadi, acaranya setelah makan malam. Tak terasa ngantuk karena seru dan banyak hal baru.

Tujuan diberikan materi ini untuk Sahabat JKN (Panggilan untuk peserta workshop JKN) adalah sebagai penunjang agar Sahabat JKN dapat menyampaikan informasi secara lisan dengan baik kepada setiap orang yang ditemuinya. Walaupun Blogger sudah dapat menyampaikan pesan dengan baik melalui tulisannya tetapi tak semua Blogger atau Netizen dapat menyampaikan pesan secara lisan dengan baik.

Menurut Ira Koesno, penyampai materi dapat disebut Brand Ambassador yang dapat mewakili pemberi pesan maka dalam menyampaikan pesan tersebut harus benar-benar memahami dan menguasai pesan kunci yang ingin disampaikan.

Pesan Kunci adalah : Pesan utama yang ingin disampaikan terkait sebuah isu, dimana pesan tersebut harus dapat diterima/dipahami oleh target audiens yang dituju.

Syarat syarat PESAN KUNCI

Jumlah pesan kunci tidak boleh terlalu banyak, tidak lebih dari dua atau tiga buah

Harus singkat, padat, jelas ; Tidak boleh lebih dari satu atau dua kalimat

Dibuat secara tertulis, sehingga dapat dipastikan bahwa kalimat tidak terlalu panjang dan jelas.

Berikut saya bagikan materi dari Ira Koesno yang dapat dipelajari bersama :

Prinsip Prinsip Public Speaking

  1. Memahami Subjek yang akan dibawakan
  2. Memiliki Pesan / Tujuan yang jelas untuk disampaikan pada audiens
  3. Memahami karakteristik audiens sebelum menyampaikan materi
  4. Tahu jumlah audiens yang akan hadir
  5. Mempersiapkan penampilan dengan seksama.
  6. Perhatian audiens akan turun setelah 10 menit. Pengulangan hal-hal yang penting harus dilakukan supaya yakin bahwa audiens memang menerima pesan yang ingin disampaikan.
  7. Gunakan tiga point utama pesan kunci, diucapkan sebanyak tiga kali, yaitu di awal, di tengah dan di akhir.
  8. Jangan pernah menghafal isi pidato/presentasi, buat catatan penting saja supaya pada saat berbicara bisa lebih flexible dan hidup.
  9. Tulus dan percaya diri
  10. Sisipkan humor, tetapi hati-hati untuk humor yang menjurus dan humor yang dipaksakan, sebaiknya humor spontan dan positif.

Memahami karakteristik audiens sebelum menyiapkan materi, dari sisi :

Politik : Kekuatan, kekuasaan, pengaruh, pengambilan keputusan

Demografis : Usia, pendidikan, etnik, jenis kelamin, geografis

Psikografis : Kepribadian, nilai, tingkah laku, gaya hidup

Firmographics : Jenis industri, jumlah pegawai, lokasi, revenue

Etnografis : Kebutuhan sosial dan budaya

Memahami karakter audiens dimaksudkan agar menyiapkan pilihan kata yang akan dirangkai dalam satu kalimat dan menjadi pembeda pada setiap karakter audiens.

Ira Koesno memberikan materi sambil praktek dan hampir semua peserta kebagian berbicara, setiap peserta ada kelemahan masing-masing gaya bicaranya, seperti terlalu cepat, terlalu lambat dan cenderung membuka mulut dulu sebelum berbicara.

Bahkan saya dan teman-teman peserta lainnya, serasa mendapatkan terapi dari beberapa interupsi yang dilakukan Ira ketika kami salah mengucap atau salah berintonasi. Seperti pengeluaran kata euuu euuu….. diawal kalimat atau sedang menghilangkan kegugupan. Semuanya diberikan solusi dan kritik membangun, berikut solusi dari Ira agar dapat berbicara lancar didepan umum :

  • Biasakan ketika berbicara jangan mendahulukan membuka mulut agar tidak terucap kata euuuuu……
  • Aksen kedaerahan jika diforum umum harus diminimalisir, usahakan pakai bahasa baku.
  • Ketika berbicara, buat jeda untuk berpikir sejenak, buat jeda yang tidak terlalu lama. Diantara jeda jangan terlalu membuka mulut.
  • Jeda adalah kekuatan, maka harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
  • Ketika menyampaikan materi, buat interaksi dengan audiens agar mereka tertarik dengan materi yang disampaikan, lakukan juga pendekatan dengan membahas seputar minat atau sesuatu yang dekat dengan mereka, misalnya pengalaman, hobby yang relevan dengan materi.
  • Bayangkan orang yang ada dihadapan kita adalah orang yang care dan dekat dengan kita agar intonasi terjaga dengan baik.
  • Ketika berbicara kita harus menatap audiens.

Dengan menjadi pemberi informasi yang baik dan kredibel, maka pesan yang disampaikan akan sampai dengan baik dan mudah dipahami audiens. Dengan demikian paparan yang kita sampaikan akan menjadi rujukan atau referensi.

ed5c5735dcb7d5c8a67dc51c8ffa43f2_img-20140813-08282

Dengan berlatih sesering mungkin, kemampuan berbicara didepan banyak orang akan semakin baik dan lancar. Kuncinya adalah berlatih, kuasai materi dan percaya diri. Pungkas Ira.

Senangnya saya dapat ilmu yang luar biasa ini. Terima kasih Ira Koesno, Mas Anjari dan Kementerian Kesehatan RI atas kesempatannya.

Advertisements
Uncategorized

Gugatan Pilpres 2014 Prabowo Hatta Akan Bermuara Kemana?

Foto : news.bisnis.com
Foto : news.bisnis.com

Sidang sengketa pemilihan presiden 2014 di Mahkamah Konstitusi (MK) yang merupakan gugatan dari pasangan capres cawapres no urut 1, Prabowo Hatta, masih berlangsung. Dengan menimbulkan berbagai opini, reaksi dan penilaian beragam dari masyarakat luas. Pro dan Kontra saling beradu dan para pendukung fanatik masing-masing kubu saling beradu argumen untuk membela jagoannya.

Saya sendiri, sebagai pendukung Prabowo Hatta tentu saja ingin jagoan saya menang tetapi saya ingin realistis dan berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya agar pilihan saya memang benar-benar tidak salah. Kalah atau menang, saya pribadi sebagai rakyat biasa yang mempunyai hak politik sebagai pemilih salah satu capres pilihan, sebenarnya mau menerima siapapun yang capres terpilih. Baik Prabowo Hatta atau Jokowi Jusuf Kalla. Yang penting mereka amanah dan mau mengerti aspirasi rakyat. Bagaimana sikap saya jika ternyata jagoan saya kalah? Saya jelas legowo tetapi harus benar-benar valid datanya, dalam arti bukan kalah karena sengaja dibuat oleh pihak tertentu dengan sikap kecurangan yang dilakukan. Sehingga jagoan saya yang seharusnya menang masa jadi kalah karena dicurangi? Ya saya mendukung sekali langkah Prabowo Hatta dan koalisi merah putih mengajukan gugatan ke MK, untuk meluruskan ketidakberesan hal ini. Siapapun tak ingin kan jika proses demokrasi ternodai dengan sikap-sikap kecurangan yang tentunya sangat melukai rakyat yang telah memilih dengan hati.

Bukan mentang-mentang yang menggugat ke MK itu adalah jagoan saya, tapi melihat fenomena seperti ini, sesuai informasi yang saya dapat dari berbagai sumber bahwa hasil prosentase suara yang punya selisih 8.421.389 suara, menurut Maqdir Ismail sebagai kuasa hukum tim merah putih adalah diperoleh dengan cara-cara kecurangan, melawan hukum disertai tindakan penyalahgunaan KPU berupa kecurangan terstruktur, sistematis dan massif. Menurut berita yang saya pantau baik secara online maupun di televisi serta media cetak, dari awal tim merah putih sudah merekomendasikan kecurangan-kecurangan yang ditemui, tentunya melalui bukti dari para saksi yang sesuai dengan form C.1-DA1-D81 diseluruh provinsi dan seluruh Indonesia. Tetapi pihak KPU tidak mengindahkan atau tidak menindaklanjuti rekomendasi Panwaslu Kabupaten/Kota atau Bawaslu Provinsi.

Inti permohonan gugatan adalah meminta MK untuk menetapkan perolehan suara pasangan Prabowo Hatta mendapatkan 67.139.153 suara (50,25 persen) dan pasangan Joko Widodo Jusuf Kalla mendapatkan 66.435.124 suara (49,75 persen) sesuai perhitungan yang benar berdasarkan bukti-bukti dokumen sah dari para saksi di seluruh Indonesia. Proses demokrasi yang jujur harus dikedepankan.

Kesalahan rekapitulasi suara tersebut terdapat di 55.485 TPS yang memunculkan suara bermasalah sebesar 22.543.811. Maqdir Ismail juga mengungkapkan bahwa telah terjadi penggelembungan suara sebanyak 1,5 Juta untuk pasangan Jokowi Jusuf Kalla dan pengurangan suara sebanyak 1,2 Juta untuk pasangan Prabowo Hatta.

Jika mahkamah berpendapat lain, kata Maqdir, maka tim kuasa hukum Prabowo-Hatta meminta MK menyatakan pemungutan suara ulang (PSU) di seluruh TPS se-Indonesia atau paling tidak MK memerintahkan KPU untuk melakukan PSU 55.485 TPS bermasalah.

Melihat pernyataan Maqdir tersebut, saya pribadi berpendapat bahwa gugatan ini bukanlah karangan semata atau sebagai ungkapan tidak menerima kekalahan. Melihat semua bukti yang dikedepankan serta saksi yang dihadirkan serta pengungkapan berbagai masalah, jelas ini harus diselesaikan seadil-adilnya. Jika pihak KPU, Bawaslu dan MK punya keberpihakan, tentu saja keberpihakan itu harus kepada yang terbukti benar. KPU, Bawaslu dan MK itu adalah jabatan yang punya tanggung jawab menyangkut amanah orang banyak. Jika pihak tersebut sengaja membenarkan yang salah, kepada siapa lagi rakyat akan percaya? Bukankah pemerintah ingin semua rakyat menggunakan partisipasi politiknya dengan baik? Saat rakyat sikap apatis nya berkurang dan melakukan partisipasi politik dengan baik, malah disalahgunakan. Percuma saja kalau begitu.

Ditambah lagi dengan adanya aktivitas membuka kotak suara untuk diambil formulir A5 dan C7 oleh KPU. Dengan dalih diperlukan sebagai alat bukti di sidang MK, sedangkan kotak tersebut boleh dibuka jika ada perintah dari MK, kalau KPU merasa tindakannya dalam pemilihan presiden ini sudah merasa benar, harusnya KPU tenang saja, tak perlu seperti kebakaran jenggot dengan nekad membuka kotak suara. Kalau hal ini dilakukan, tentu saja akan muncul dugaan-dugaan yang tidak benar. Apalagi saat membuka kotak suara tersebut tidak dihadiri saksi dari kedua kubu calon presiden. Seperti yang dikatakan Pakar Hukum Prof. Andi Hamzah, bahwa sikap KPU yang membuka kotak suara tanpa adanya perintah dari MK, adalah tindakan melawan hukum dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) harus memberikan sanksi terhadap KPU.

Saya pribadi sebagai rakyat Indonesia, menginginkan proses demokrasi berjalan secara baik, benar, jujur dan transparan serta melalui proses beretika. Jika saja proses demokrasi hasil yang sekarang diperoleh bukan dari hasil cara-cara keganjilan, saya pun akan legowo. Dan menerima hasilnya dengan lapang. Tetapi jika terjadi kecurangan, saya sebagai rakyat biasa ingin pihak terkait meluruskan ketidakbenaran itu agar kedepannya proses demokrasi ini selalu bersih dan aspirasi rakyat benar-benar tersalurkan. Saya tidak rela jika suara rakyat dikhianati dengan kecurangan dan dipaksa menerimanya tanpa keadilan.

Maraknya kicauan di sosial media yang berbau opini-opini dengan sarat berbagai kepentingan tertentu, membuat miris. Sebab sebagian masyarakat bahkan lembaga-lembaga pemerintah hampir tak dapat membedakan mana yang merupakan aspirasi masyarakat sebenarnya dan mana yang merupakan opini yang dibangun atas dasar kepentingan tertentu. Dalam hal ini, pihak yang paham akan kebenaran diharapkan dapat membuka mata, telinga dan hati. Agar yang salah tak dibenarkan dan yang benar tak disalahkan. Semua mengacu kepada bukti, saksi dan segala hal yang mendukung proses gugatan ini.

Pakar Hukum Tata Negara Universitas Indonesia Hamid Chalid juga menilai bahwa langkah Prabowo Hatta melakukan gugatan ini sesuai konstitusi, ada sesuatu yang harus diluruskan berarti harus disampaikan kepada pihak berwenang. Ini dapat menjadi pembelajaran demokrasi bagi masyarakat luas jika terjadi kecurangan. Harus diluruskan dan diselesaikan melalui cara yang baik sesuai bukti.

Jadi, bukan hanya dititikberatkan untuk legowo atas hasil demokrasi yang ada saja tetapi legowo dengan usaha pihak tertentu untuk meluruskan ketidak beresan sesuatu harus dilakukan juga. Jika ingin proses demokrasi yang jujur, adil, berwibawa dan beretika. Tentu saja sikap gugatan pilpres 2014 ini harus disikapi secara positif jika ingin melihat kebenaran yang sesungguhnya. Sikapi dengan mencari informasi sedalam-dalamnya bukan hanya membela dengan menutup mata.

Gugatan Prabowo Hatta yang sekarang akan bagaimana, semuanya masih melalui proses di MK, kita tunggu bagaimana muaranya, saya berharap proses sidang ini dapat memihak kepada yang benar sesuai bukti yang ada. Hasil sidang gugatan ini akan menentukan kualitas demokrasi di Indonesia serta sikap para elite di pemerintahan. Dan masyarakat yang akan menilai.