Uncategorized

Hari Kartini Di Pratiwi School

Depok, 21 April 2014 Seminggu sebelum Tanggal 21 April, Mba Qona (Salah satu guru di Pratiwi School) mengirimkan pesan di inbox FB saya, meminta saya untuk sharing tentang menulis blog dalam rangka memperingati Hari Kartini di Pratiwi School yang merupakan sekolahan mulai level paud sampai SD. Saya langsung saja mengiyakan ajakan dari Mba Qona, untuk masalah berbagi ini saya sangat tertarik.

60736787677a9b151d2454b658269eec_sukmajaya-20140421-06483

3b3e432dc04b4bd51e81a03e494bb06e_sukmajaya-20140421-06478

Tibalah saatnya, Tanggal 21 April 2014 disaat beberapa sekolah TK dan SD meriah mengenakan pakaian adat dan daerah, lalu bersiap pawai. Di Pratiwi School tampak normal saja, semua siswa tetap belajar seperti biasanya. Menurut Mba Qona dan beberapa guru di sana, Hari Kartini selalu dimanfaatkan untuk memperdalam wawasan anak-anak di sana, jadi setiap tahunnya pada perayaan Hari Kartini, Pratiwi School selalu mendatangkan narasumber yang mewakili sosok Kartini masa kini untuk berbagi pengalaman dan ilmu di sana. Bukan sekadar pawai berpakaian daerah saja.

Sesampainya di Pratiwi School yang terletak di kawasan Grand Depok City, suasana yang sejuk masih menyelimuti dan beberapa siswa Paud terlihat sedang bernyanyi dan belajar di ruangan. Melihat lebih dalam lagi ke halaman sekolah yang terletak di tengah, ramai anak kelas 1 hingga 3 SD bermain bola, menunggu bel masuk. Atribut-atribut dan motto dalam Bahasa Inggris menghiasi dinding ruangan dan jendela kaca kelas. Penuh keceriaan dan motivasi. Pratiwi School mengadopsi kurikulum campuran Singapura dan Indonesia. Sehingga bahasanya bilingual dan lebih mengedepankan sistem Active Learning jadi pada setiap belajarnya, semua siswa harus interaktif dalam menerima pelajaran.

Pratiwi School yang baru berdiri tiga tahun lalu ini dalam waktu singkat itu sudah menuai banyak prestasi, terbukti dengan banyaknya piala yang terpajang di ruangan depan sekolah.

Kehadiran saya di sana, untuk memberikan semangat bagi semua siswa Kelas 1 sampai 3 dalam hal beraktivitas dan berkarya. Khususnya tentang menulis blog dan mempergunakan sosial media dengan baik bagi anak-anak. Tadinya saya merasa ini adalah tantangan, karena anggapan saya, lebih mudah memberi materi pada anak besar daripada anak kelas 1 sampai 3 SD. Tetapi setelah dijalani,bisa nyambung juga dengan bahasa yang disederhanakan dan mudah dipahami anak-anak. Hal tak terduga, semua anak-anak itu begitu tertib, tidak ada yang sengaja mencari perhatian atau bertengkar. Semua menyimak dan aneka pertanyaan terkait materi yang saya sampaikan bermunculan. Mereka semuanya aktif dan saya merasa nyaman dan puas. Karena anak-anak di sana begitu memahami apa yang saya sampaikan.

Tujuan saya memberikan materi menulis blog, karena dari menulis akan membuka banyak hal potensi diri pribadi dan dapat menjadi tambahan atau pelengkap cita-cita yang lainnya. Selain itu, saya juga menekankan bahwa berinternet walau banyak manfaatnya, ketika mereka akan membuka akun harus selalu didampingi orangtuanya. Karena usia mereka rentan dengan berbagai risiko terkena cyber crime, anak-anak pun punya rasa ingin tahu yang sangat banyak. Beberapa siswa yang aktif bertanya diantaranya Niko, Wibi, Rangga, Nayla dan Naufal memancing diskusi mennjadi hidup. Tak hanya profesi penulis yang saya perkenalkan, profesi editor yang selama ini bekerja back stage dan kurang dikenal anak-anak. Saya memperkenalkan editor andal yang sudah berkecimpung lama dalam dunia editing buku, yakni Haya Aliya Zaki. Niko sangat antusias dan ingin menjadi editor kelak.

Bersama Kelas 1 Pratiwi School
Bersama Kelas 1 Pratiwi School dan Ibu gurunya
Bersama Kelas 3 Pratiwi School dan Ibu Gurunya
Bersama Kelas 3 Pratiwi School dan Ibu Gurunya

Sampai pada akhir acara pun anak-anak masih banyak yang ingin bertanya. Sayang, waktunya terbatas karena anak-anak harus istirahat makan siang dan kembali belajar seperti biasa. Selesai acara, saya menyempatkan diri untuk berbincang dengan semua ibu guru dan Kepala Sekolah Ibu Stefani yang dipanggil Miss di sana. Seru dan asyik mendengar perkembangan para siswa yang lebih berkembang dengan active learning. Satu kelas biasanya berisi 25 siswa dan dibimbing 2 guru. Terdengar percakapan dalam Bahasa Inggris mendominasi lingkungan sekolah ini. Mennurut Ibu Stefani, Kepala Sekolah Pratiwi School, walau kurikulum Singapura diadopsi di Pratiwi School, namun cara penyampaiannya dengan cara Indonesia. Jadi anak-anak tetap mengacu pada akar budaya bangsa sendiri.

Bersama Kepala Sekolah dan Para Ibu Guru Pratiwi School
Bersama Kepala Sekolah dan Para Ibu Guru Pratiwi School

Hari Kartini tahun ini begitu berkesan, saya dapat berbagi bersama para siswa Pratiwi School yang menyenangkan dan unforgettable.

Advertisements
Uncategorized

Pentingkah Komunikasi Dengan Keluarga Besar?

Saya masih ingat Ibu Emi, Guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) yang sekarang adalah PKN (Pendidikan Kewarganegaraan) saat itu saya masih SMP kelas 1 dan sedang giat-giatnya menyimak apa yang dipaparkan oleh setiap guru. Kebetulan PMP adalah salah satu pelajaran favorit saya, karena Ibu Emi jika mengajar tak hanya sekadar mengajar. Selalu ada cerita yang memuat pesan moral didalamnya, modifikasi antara pesan moral dari kejadian nyata yang akrab terlihat sehari-hari dipadukan dengan isi buku paket. Sehingga kami para siswa tak bosan menyimaknya, apa yang disampaikannya pun selalu membuat kami tak pernah ingin berakhir dalam mata pelajaran ini. Mudah diserap dan mudah diingat. Padahal Ibu Emi termasuk guru yang agak galak, berdisiplin tinggi dan tak semudah itu mentolerir siswa yang tak mengerjakan tugas darinya atau bagi yang menyontek, sanksinya benar-benar merugikan makanya semua siswa selalu ingin membuat hal yang terbaik dan tak ingin berbuat cela untuk pelajaran PMP atau ketika berhadapan dengan Ibu Emi.

Ibu Emi pernah mengajarkan arti hubungan baik dengan keluarga dan tetangga. Menurut Ibu Emi, mereka adalah bagian hidup kita yang tak bisa dipungkiri sehingga mereka harus dimuliakan. Dalam arti memperlakukan mereka dengan sebaik mungkin, tidak menyakitinya dan harus selalu berkomunikasi. Karena tanpa mereka, kita tak akan punya sosok-sosok terdekat yang akan menjadi referensi utama dalam menjalani hidup yang sebenarnya. Bayangkan jika kita tanpa mereka, hidup tanpa orang-orang yang dapat mengakui dan menerima kita lahir batin, jika ada sesuatu hal terjadi, mereka pasti akan turun tangan dan bertindak sebagai penyelamat serta pembela di garis depan. Orang – orang di luar sana tak akan memberi dukungan jika tak diawali dukungan orang terdekat, yakni keluarga dan tetangga.

Oleh karena itu, saya sangat setuju dengan apa yang diajarkan oleh Ibu Emi, Guru PMP saya semasa SMP. Ketika sekarang masyarakat cenderung individualistis yang sangat akut, betapa disayangkan seolah dengan kambing hitam kesibukan yang dialaminya membuatnya merasa sah sah saja untuk meremehkan pentingnya silaturahim atau berkomunikasi dengan keluarga besar dan tetangga. Di lingkungan perumahan biasanya sikap ini kerap terjadi, bahkan dengan tetangga sebelah atau depan rumah tak pernah ada saling sapa atau sengaja menegur duluan agar tercipta komunikasi. Sama-sama gengsi dan jual mahal. Entah apa dalam pikirannya, yang dipikir mungkin hanyalah mencari duniawi, menuruti kesibukan yang tiada batas dan tak mementingkan arti kebersamaan. Lebih parahnya lagi, saat orangtuanya ingin berkunjung, harus membuat janji dulu. Takut si anak sedang sibuk di kantor atau ke luar kota. Atau ketika saudaranya datang, cuma disuruh makan, tidur dan menikmati apa yang ada di rumahnya, tanpa menemaninya ngobrol atau bertukar pikiran. Kelakuan seperti ini cenderung keterlaluan. Terutama memperlakukan orangtua seperti rekanan bisnis, harus janjian sebelum bertemu. Padahal orangtua mau datang kapan pun tidak perlu pakai janji, sesibuk apapun orangtua sangatlah penting. Masih banyak cara menyiasati waktunya.

Mengapa silaturahim itu penting? Silaturahin dan berkomunikasi dengan keluarga besar lain dan tetangga akan meluaskan inspirasi hidup kita, menjadikan kita tak terpatok pada opini diri sendiri saja yang belum tentu selalu benar. Bisa menjadi pengontrol, menjadi pengendali setiap perilaku dan ketika membuat keputusan dan yang lebih penting lagi, memupuk rasa kasih sayang dengan sesama yang berawal dari keluarga besar dan tetangga, akan membuat kita menjadi terbiasa melaksanakannya. Di luar hal ini, jika kita rajin bersilaturahim dan berkomunikasi dengan keluarga besar maupun tetangga, kita akan mendapatkan banyak informasi yang dibutuhkan. Bahkan ketika kita ingin meminta bantuan mereka, tak akan ada rasa sungkan atau malu, karena kita datang bukan pada saat butuh saja, sebelumnya sudah sering berkunjung dan berkomunikasi.

Solusi buat yang punya aktivitas padat, sebaiknya luangkan waktu seminggu atau dua minggu sekali untuk mengunjungi keluarga yang terjangkau tempatnya, jika tempatnya jauh, dapat diatur waktunya sebisa mungkin. Atau jika tak mampu karena kejauhan, komunikasi via e-mail, sms, telepon dan lain sebagainya. Sebagai alternatif lain, kunjungi keluarga yang dekat, bisa paman, bibi, uwa, sepupu, nenek, keponakan dan lain sebagainya. Jangan terpatok hanya pada orangtua saja tetapi untuk seluruh keluarga besar harus sempatkan untuk dikunjungi. Sedangkan untuk tetangga, jika sedang luang sempatkan untuk ngobrol hal ringan saja, siapa tahu muncul ide untuk kebaikan bersama, misalnya jadi terpikir untuk membuat portal gerbang masuk gang perumahan sehingga bisa terhindar dari hal yang tak diinginkan, membuat rumah kompos dari pengelolaan sampah rumah tangga atau adakan pertemuan rutin sebulan atau dua bulan sekali, jika RT setempat belum punya inisiatif, warga pun berhak bersuara dan menyampaikan pendapatnya. Paparkan secara logis disertai contoh bahwa pertemuan warga secara rutin banyak manfaatnya.

Hal yang tidak boleh dilakukan saat pertemuan bersama keluarga dan tetangga adalah membicarakan kejelekan orang lain atau melakukan pembicaraan yang tidak perlu yang malah akan merusak tujuan silaturahim sebenarnya. Sehingga dapat merenggangkan hubungan baik dengan yang lainnya. Lebih baik sibukkan diri ketika pertemuan tersebut untuk saling berbagi manfaat dan kebaikan. Jalinan kasih sayang sesama manusia dan keberkahan akan mengalir deras ketika kita memelihara tali silaturahim.

Mari kita tingkatkan hubungan baik dengan semua orang dan jalin silaturahim secara rutin.