Uncategorized

Kemakmuran Hidup Bisakah disebut Sejahtera?

Minggu lalu, sahabatku dari Bandung bertandang kerumah dengan keluarganya. Wiwid sengaja datang ke Pamulang karena kangen berat. Sebab aku sudah lama tidak pulang ke Bandung.

Seperti biasa, kami heboh bercerita dari A sampai Z begitupun dengan suami dan anak-anaknya yang sudah seperti saudara. Jika bertemu kami suka masak bersama dan meng-agendakan jalan-jalan. Kali ini Wiwid ingin ngobrol dirumah saja. Katanya biarlah anak-anak dan Sekar serta suami Wiwid yang jalan-jalan dan mengantar anak-anak berenang.

Lalu kami berbincang mulai dari resep masakan, teman lama dan bisnis. Ternyata Wiwid punya bisnis sepatu lokal yang sedari kuliah sudah dirintis kini semakin maju dan membuka banyak cabang distributor. Termasuk untuk Wilayah Tangerang. Pekerjaan suaminya pun kian menanjak.

Aku sampai iri positif dengan segala pencapaiannya. Keluarga sempurna, karir mulus, rumah dan kendaraan layak dan anak-anak yang lucu. Hampir sempurna. Namun dugaanku salah, dalam kesempurnaan itu Wiwid masih mengeluhkan sesuatu. Ia dan keluarga besarnya kurang kompak karena sering terjadi kesalahpahaman dan kurang komunikasi. Yang kedua, dirinya merasa bersalah sebab waktunya nyaris tak ada buat menemani anak-anaknya dalam kesehariannya. Pekerjaan yang menuntutnya untuk bergerak dari pagi hingga malam bahkan Hari libur dirinya harus terlibat berbagai kegiatan diluar pekerjaan membuatnya tak cukup waktu untuk mengalami kebersamaan bersama anak dan suaminya. Apa yang diungkapkan Wiwid mungkin klise dengan problema orangtua yang berkarir full time namun apa yang dialami Wiwid, tak mendatangkan masalah pada anak dan suaminya. Karena anak dan suaminya benar-benar mengerti kesibukan Wiwid sebagai ibu dan istri yang berkarir demi membantu ekonomi keluarga. Semua baik-baik saja karena Wiwid pun punya asisten rumah tangga yang dapat dipercaya dan sudah lama ikut keluarga mereka.

Masalah justru datang dari Wiwid sendiri, dirinya walaupun telah banyak berbuat baik dan memajukan keluarga dari segi ekonomi dan materi. Tetapi dirinya tidak merasa menjadi manusia yang benar-benar manusia. Tidak merasa dirinya menjadi wanita yang benar-benar wanita. Sebuah tanggungjawab yang dirasakannya terabaikan mulai menohok disaat dirinya telah mencapai kemakmuran.

Apa yang menjadikan diri sahabatku ini gelisah? Begini penuturan Wiwid dirumahku “Ni, aku benar-benar iri sama kamu, walaupun kamu hidup sendiri tanpa suami tapi kamu mampu membuat waktumu berkualitas menjalani hidup.” Katanya serius. Aku sampai terperanjat dan heran.Keadaannya yang justru nyaris sempurna dalam pandanganku dan membuatku iri kok malah balik merasa iri sama keadaanku?

“ÂœHah, apa yang kamu iri kan sama sekali gak beralasan wid, intinya jika kamu mau merubah pola hidup menjadi berkualitas pasti bisa. Semuanya ada pada niat dirimu sendiri. Bukan orang lain atau lingkungan yang bikin kamu bisa berkualitas.” Jawabku sambil nyeruput teh hangat.

Lalu Wiwid menimpali dengan cepat. “ÂœAni……jelas aku iri lah, kamu pagi-pagi masih bisa mengantarkan sekolah Sekar, pulang kerja mengantarkannya mengaji dan malamnya menemani belajar. Sudah gitu pas hari libur kamu dan Sekar sering melewatkan waktu bersama walau kegiatanmu juga tak kalah sebaregnya.” Kali ini Wiwid agak sewot, sikap ngototnya memang gak berubah dari dulu.

Akhirnya aku menjelaskan secara pelan, sambil memberi solusi. Mau dituruti atau tidak terserah Wiwid, untungnya Wiwid memahami apa yang kusampaikan.

Wiwid diberi solusi agar dirinya bisa mengurangi ritme kerjanya yang tinggi. Sebab biarpun anak dan suaminya pengertian terhadapnya serta tak mempermasalahkannya, tetap saja mereka membutuhkan Wiwid secara langsung sebagai istri bagi suaminya juga sebagai ibu dari anaknya. Aku memberi pengertian bahwa harta kekayaan yang hakiki dan tak akan pernah habis adalah memupuk ilmu bermanfaat untuk buah hati. Baik secara menegakkan keimanan kedalam dirinya sejak dini maupun secara etika kepribadian dan ilmu pengetahuan yang baik.

Sebab anak akan bisa menjalankan hidupnya dengan baik jika keimanan dalam dirinya sudah tertancap dengan baik sejak dini. Anak akan bisa membawa dirinya di lingkungan manapun jika dirinya sudah ditempa untuk berkepribadian beretika sejak kecil. Dan anak akan bisa meraih keberhasilan hidup dari ilmu dan keahlian yang dimilikinya. Maka sangat rugi jika sejak dini anak tidak mendapatkan masa-masa terbentuknya sifat dan karakter yang utama itu.

Yang bisa membentuk kepribadian anak sedari kecil adalah pengaruh dari orangtua, khususnya ibu. Agar bisa menyaring ajaran lingkungan tempatnya bernaung. Sebab pengaruh lingkungan sangatlah besar terhadap pertumbuhan dan pembentukan karakter anak. Maka dari itu peran orangtua dirumah dalam membimbing anak sangat penting.

Wiwid dengan antusias mengiyakan apa yang aku utarakan panjang lebar terusebut. Kukira Wiwid akan protes dengar ceramahku sambil meledek habis-habisan. Ternyata Wiwid merasa apa yang aku utarakan adalah tepat dengan kondisinya saat ini. Maksud ia tak merasa menjadi manusia dan wanita itu karena dirinya hampir mengabaikan keadaan anak dan suaminya. Yang merupakan tanggungjawabnya agar mereka merasa nyaman dan punya energi serta dukungan dalam meraih kualitas hidup karena sang istri/sang ibu support.

Aku menambahkan lagi, Pekerjaan tak akan ada ujungnya, mengalami kemajuan pesat pun tak akan ada artinya jika anak-anak kehilangan masanya untuk membentuk karakter serta membangun dasar kehidupan yang harus ditanamkan sejak dini. Masalah materi yang penting cukup saja tak perlu menginginkan lebih dan lebih dengan mengorbankan hak anak dan keluarga. Selain memerhatikan keluarga inti. Juga wajib bersilaturahim dengan keluarga besar agar hubungan senantiasa baik dan tak terjadi kesalahpahaman.

Seketika Wiwid nampak lega. Setelah itu baru dia mengajakku untuk masak bersama sambil menunggu anak-anak pulang berenang. Walau Wiwid yang curhat saat itu namun aku juga merasa diingatkan bahwa apa yang tadi kukatakan adalah untuk diriku juga.

“Don’t Let the essential responsible life because that is Priceless” By : Ani Berta

Advertisements