Uncategorized

Lelaki dan Bunga Tanjung

Lelaki dewasa tinggi kurus, dengan rambut agak panjang terikat kebelakang, janggut tipis menghiasi dagunya dan selalu mengenakan kaus oblong putih dan celana jeans biru, hampir setiap hari terlihat duduk terpekur dibangku kecil yang terdapat di bawah pohon tanjung yang tinggi dan lebat.

Biasanya lelaki itu datang kalau tidak pagi sampai siang, atau siang sampai sore hanya duduk tercenung dan sesekali memungut bunga bunga tanjung yang jatuh berhamburan ke tanah, tak terlihat raut muka yang galau atau putus asa, penampilannya terlihat bersih, hanya pandangan kosong dan tatapan dingin yang terlihat.

Siang itu hujan lebat dan angin begitu kencang, tetapi lelaki itu tak beranjak meskipun badan dan rambutnya diguyur air hujan dan mukanya diterpa angin kencang, lelaki itu terlihat menggigil sambil memeluk wadah kecil berisi bunga bunga tanjung yang dipungutnya.

Seorang bapak tua penyapu jalanan di kompleks itu datang menghampiri lelaki itu yang terlihat menggigil dan basah kuyup, sambil menyodorkan sebuah payung lusuh miliknya.

“Nak, kenapa tidak pulang saja atau berteduh ditempat yang kering.” Tanya pak tua itu keheranan. “Terimakasih pak, biar saya disini saja, bunga tanjung ini belum cukup dibawa pulang karena istri saya sangat suka jika bunga nya banyak.” Jawab lelaki itu sambil menerima payung lusuh.

Pak tua tambah keheranan sambil menatap dalam lelaki itu dan beranjak pergi meninggalkannya.

Hati si lelaki itu bergumam ditengah derasnya hujan ” Aku tahu, aku salah besar telah menyakiti dan mengkhianatimu, kuharap dengan bunga yang kau suka ini, dapat dimaafkan atas semua salah dan khilafku padamu, walau sampai detik ini aku tak tahu dimana khabar dan keadaanmu, sampai kapanpun hanya kamu milikku.”

Hari itu tak terlihat lelaki dibawah pohon tanjung seperti biasanya, hanya ada kerumunan orang orang dipinggir jalan, suara sirine ambulance memecah telinga dan beberapa polisi berada disitu, di tengah kerumunan ternyata lelaki itu tergolek kaku dan oblong putihnya kontras dengan darah yang bersimbah , tak bernyawa namun wadah berisi bunga tanjung itu masih dipelukannya.

***** Prosa ini dibuat untuk memeriahkan ultahnya Blog Eda ku *****

Advertisements
Uncategorized

Kata orang, Ingin seperti orang

Namanya hidup, manusia sudah pasti membutuhkan orang lain baik untuk saling melengkapi, menjadi teman, berbagi inspirasi juga share masalah apa saja, dampak interaksi antara sesama manusia, sudah pasti ada perasaan saling memandang dan saling membandingkan kehidupannya.

Jika si A punya keluarga sempurna, jika si B punya profesi dan karir gemilang, jika si C hidupnya pas2an namun rasa syukurnya besar, jika si D mempunyai segala yang diinginkan namun tak bahagia dan berbagai kondisi mewarnai gerak hidup setiap insan didunia ini, menimbulkan berbagai interaksi, debat, polemik dan perasaan kagum, iri hati atau perasaan empaty dan ikut bahagia.

Menyikapi sosialisasi dan hidup bermasyarakat, kita harus benar benar bisa menempatkan, agar tidak terbawa arus yang jelek , tidak euforia , tidak iri hati juga dengki dan tidak berperilaku atau melakukan sesuatu yang tidak tepat dengan kondisi dan keadaan kita, sehingga bisa merubah pendirian dan tidak menjadi diri sendiri.

Apapun yang kita dapat, apakah kita jadi businessman, karyawan, pengusaha, office boy, pedagang, pelayan, tukang cuci, pembantu, tukang bangunan atau kerja buruh, sebenarnya tak masalah jika sesuai dengan kondisi dan keadaan kita berada pada kapasitas itu, sebab dalam kapasitas yang kita punya itu ada sesuatu yang dapat melengkapi dan berguna untuk kehidupan orang lain.

Contohnya untuk profesi :

1. Tukang sampah, seandainya tak ada profesi ini mungkin semua akan kewalahan menangani sampah yang tiap hari ada

2. Office boy, jika tak ada office boy kita akan kesulitan untuk menangani pekerjaan yang tak mungkin dilakukan serentak dengan pekerjaan kantor dan kantor pun akan kotor, kerja pun gak konsentrasi dan sangat akan ribet.

3. Operator produksi, dengan adanya kerja buruh pabrik atau operator produksi, suatu perusahaan akan mempunyai produk atau karya yang bisa dijual dan sumber bahan yang akan membuat perusahaan itu maju.

4. Begitupun untuk level atas seperti bos atau pengusaha, tanpa mereka kita tidak akan ada yang menyediakan lahan pekerjaan dan menyediakan sumber penghasilan.

Semua yang kita dapat adalah rezeki dari Allah swt dan sudah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita mengelolanya, jangan pikir bahwa ketika kita hanya ada di level bawah merasa tidak berguna dan bukan some body, apapun yang kita dapat jika kita bisa mengelola dengan baik dan dapat total menyikapinya sebagai sesuatu yang berguna buat orang lain, pasti ada rasa kepuasan atas apa yang kita lakukan dan apapun yang kita dapat, apapun profesi kita kita akan selalu lapang dada menerimanya, bukan mustahil juga orang lain akan menghargai dan mengakui bahwa tanpa peran apa yg kita punya untuk kehidupan orang lain, mereka juga bukan apa apa dan tak bisa apa apa.

Jika kita hidup hanya sibuk dengan apa kata orang? ingin seperti orang lain, hidup dan waktu kita akan terbuang percuma dan jadinya kita tidak melakukan apapun untuk mengisi hidup yang lebih penting dan berguna buat diri sendiri, juga bermanfaat buat orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Mendingan kita tetap menjadi diri sendiri dan berbuat sesuatu semaksimal mungkin dari kapasitas yang ada pada diri kita. Boleh mengambil inspirasi dan pengaruh baik dari orang lain untuk meningkatkan kualitas hidup, tapi tidak merubah apa yang menjadi kapasitas dan peran kita yang tepat dalam hidup ini.

Uncategorized

Aku Masih Semangat Kibarkan Merah Putih

Pagi tadi adikku yang tinggal di Depok nge buzz YM, tanya ” Kak, udah pasang bendera belum dirumah?” Aku jawab spontan ” Ya udah dong, dari Tgl 1 Agustus malahan.” Adikku menambahkan dengan nada sedih ” Aku sedih kak, para tetangga disini belum pada pasang bendera sampai hari ini, cuma aku doang nih yg pasang, bukan karena aku sedih karena yang pasang bendera sendiri tapi dimanakah rasa nasionalisme dan penghargaan terhadap negaranya?” Adikku berujar.

Lalu aku menyarankan adikku untuk mengingatkan tetangganya jika bertemu dihalaman atau sedang berpapasan, siapa tau mereka lupa karena sibuk dengan masalah dan aktivitas lain.

Memang ya untuk ukuran rasa nasionalisme tidak bisa diukur dari semangat memasang bendera, bisa dilakukan dengan berbuat sesuatu yang lebih ada tindakan nyata seperti berkarya, menjaga harkat dan martabat bangsa, cinta budaya dan tanah air dan lain sebagainya.

Tetapi, tidak ada salahnya jika kita tidak menyepelekan hal pasang memasang bendera pada moment penting seperti ini, kenapa??? Ingatkah kita saat menonton film perjuangan atau ketika baca pelajaran sejarah bagaimana para pejuang dan nenek moyang kita merebut dan mempertahankan agar Bendera Merah putih bisa berkibar?? Harus dibayar dulu dengan aliran darah dan nyawa serta penderitaan dan siksaan yang tak berkesudahan.

Kini, setelah kita leluasa bisa mengibarkan Sang Saka Merah Putih, bisa eksis kan jati diri bangsa dengan memperlihatkan kepada dunia bahwa nih Merah Putih adalah simbol dan identitas bangsaku.

Dengan Bendera yang berkibar, ketika kita memandangnya, tak terasa ada ikatan bathin yang akan menumbuhkan sikap dan jiwa yang begitu cinta tanah air dan ada dorongan hati untuk bisa berbuat lebih banyak dari hanya sekedar memasang bendera, percayalah dari hal kecil yang bisa kita perbuat untuk menghargai para pejuang, leluhur dan tanah air kita, bisa timbul semangat untuk melakukan hal yang lebih besar lagi untuk negeri ini.

Apapun kondisi negeri kita, kita sudah lahir, makan, minum, tidur, bernafas dan melakukan segalanya disini, tempat anak cucu kita kelak juga.

Uncategorized

Garut Explore

Weekend Tgl 7-8 Agustus, Sekar ngajak ke Garut, kampung halaman nenek dari ibuku, tepatnya di Cibatu Garut Jawa Barat kalau naik mobil sekitar 3 Jam dari Kota Bandung, hawa disana bener bener masih sangat hijau, dingin dan jauh dari polusi, cocok buat weekend dan istirahat sejenak dari rutinitas yang melelahkan.

Pulang kerja jam 2 siang, kami langsung berangkat dari Pamulang ke Garut, seperti biasa, di daerah Nagreg Bandung macetnya gak ketulungan karena disitu banyak jurang yang curam jadi setiap kendaraan harus antri agar tidak jatuh ke jurang, weleh kalau udah disitu pasti aku berdoa gak putus putus he..he…

Sampai disana jam 10 malam dan pagi pagi jam 6 udah bangun karena dinginnya seperti dikutub dan air buat mandi pun terasa seperti air es, sengaja mau langsung jalan dipagi hari menghirup udara pegunungan

img1210a

Sekar berpose didepan hamparan sawah yang berlatar belakang gunung

img1236a

Selokan disana masih bening gini weleh………..

img1222a

Baru nemu nih ulat bulu gede kayak gini

Setelah explore alam kita, ke Obyek wisata Candi Cangkuang yang terletak di Leles Garut, untuk sejarahnya nanti dibahas diposting berikut ya.

img1217a

Berpose didepan Candi Cangkuang

img1228a

Sekar di rakit penyebrangan untuk melihat Candi Cangkuang

img1220a

Candi Cangkuang, satu satunya candi yang ada di Jawa Barat

img1212a

Hamparan Bunga Teratai warna merah, pink dan putih disekitar Danau Candi Cangkuang

img1235a

Rakit rakit yang siap mengantar kita menjelajah danau sekitar Candi Cangkuang

Dari Candi Cangkuang Leles Garut, kita beralih ke Situ Bagendit, yaitu Danau yang ada cerita legendanya, dipostingan berikutnya nanti akan dijelaskan legenda situ Bagendit ini, sekarang nikmati aja dulu pemandangan situ nya ya.

img1240a

Foto diambil dari sepeda air angsa

img1243a

Untuk menyusuri Situ Bagendit bisa naik sepeda air angsa ini ataupun rakit, tapi enaknya sih pake rakit ya, karena gak perlu capek2 gowes, he..he….

Sebenarnya masih banyak obyek wisata di Garut, seperti Hot Spring Cipanas, Kampung sampireun, dan lain lain, namun lain waktu mungkin bisa explore lagi.

Hari menuju siang kita udah lelah dan pulang kerumah nenek yang udah disampakin nasi hangat, goreng ayam, Gepuk sapi alias rendang khas Jawa Barat, sambel terasi dan lalapan, wihhh nikmaaatttt alhamdulilah, walau dalam waktu singkat kita bisa jelajah Garut dengan hati senang, sore nya kita pulang naik kereta ke Jakarta, dalam waktu satu hari satu malam, bisa lintas tiga provinsi, dari Garut Prov Jawa Barat, singgah di Stasiun Senen prov DKI dan akhinya pulang ke Pamulang Tangerang prov Banten.