Uncategorized

33

Pada dinginnya malam di kota yang orang bilang adalah kota kembang, 33 tahun yang lalu, setelah bayi mungil itu keluar dari rahim sang ibu dan bersedia untuk konsisten dengan perjanjian kesepakatan yang dibuat di alam rahim dengan Sang Pencipta.

Beberapa fase telah dilewati, dari mulai bayi, balita, kanak kanak, remaja dan dewasa, berbagai bimbingan, belajar pada sekolah dan institusi, bekerja di perusahaan, berorganisasi, sosialisasi dengan berbagai karakter manusia sejenisnya serta belajar segala aspek.

Perjalanan yang lurus, berkelok, terjal dan berbagai ranjau berusaha dilewati, di tahun yang ke 33 ini, sang bayi sudah menjadi perempuan dewasa yang telah melalui perjalanan terakhir seorang perempuan pada umumnya, setelah menikah, mampu melahirkan seorang putri juga membesarkannya.

Walaupun dalam fase perjalanan nya tidaklah sempurna namun perempuan itu berusaha untuk bersikap positif dan menjalani hidupnya berusaha mohon Ridho Nya.

Tak banyak yang diharapkan si perempuan itu, hanyalah untuk menghabiskan sisa hidupnya dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat buat diri dan orang lain dan mulai dari 33 ini, si perempuan akan terus evaluasi diri, lebih mendekatkan diri sama Sang Pencipta dan Membesarkan Sekar tersayang.

Advertisements
Uncategorized

Liburan sederhana

Untuk liburan ternyata tidak harus bermahal mahal, mengunjungi tempat tempat yang terdekat dan punya nilai history serta education juga bermanfaat dan mengasyikan baik bagi orangtua maupun anak.

Berwisata ke Mesjid Kubah emas yang terletak di Cinere Depok, sangat mengesankan, melihat pemandangan sekitar mesjid yang asri dan luas juga mesjid yang megah dan anggun dengan lima kubah yang berlapis emas asli.

Walau terletak di kota kecil, namun banyak sekali pengunjung berdatangan dari lokal, luar pulau juga luar negeri.

Mesjid ini merupakan salah satu kebanggaan Bangsa Indonesia juga.

ani

img1022a

Setiap hari ramai dikunjungi

img1010a

Sekar, dengan leluasa lari sana sini di halaman dalam mesjid

img1019a

Tampak dari halaman dalam

img1029a

Salah satu interior disamping tempat wudhu Wanita

img1031a

Ini sebenarnya atap kubah berbentuk lingkaran, karena saya memotret curi curi jadi terhalang salah satu pilar, sebab dalam mesjid dilarang foto foto, he..he…nakal ya saya?

img1024a

Pemandangan Samping Mesjid

img1017a

Sekar Ingin pose di dekat kolam, dalam mesjid

SEJARAH MESJID ini menurut Ibu Wikipedia :

Masjid ini dibangun oleh Hj. Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten, yang telah membeli tanah ini sejak tahun 1996. Masjid ini mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai sekitar akhir tahun 2006. Masjid ini dibuka untuk umum pada tanggal 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha yang kedua kalinya pada tahun itu. Dengan luas kawasan 50 hektar, bangunan masjid ini menempati luas area sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi. Masjid ini sendiri dapat menampung sekitar kurang lebih 20.000 jemaah. Kawasan masjid ini sering disebut sebagai kawasan masjid termegah di Asia Tenggara

Uncategorized

Get reward from doing the best one

Jika kita melakukan suatu tindakan atau keputusan tentu harus berdasarkan pertimbangan baik buruk terhadap akibatnya, jika hasilnya diperkirakan baik, maju dan jika hasilnya diperkirakan buruk atau tidak sreg, ditunda atau malah dibatalkan.

Menyikapi sesuatu dengan berbagai pertimbangan adalah baik , agar hasilnya mantap dan tepat guna.

Tetapi apabila kita melakukan sesuatu yang sudah nyata akan baik dan bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain, namun setelah hati dipengaruhi sikap ego juga perasaan yang cenderung melenceng dari logika, hal ini perlu penelaahan lebih jauh dari apa tujuan kita dalam menyikapi sesuatu itu.

Contohnya, jika kita sedang berjalan di mall, trotoar jalan atau tempat umum lainnya, kita mendapati kotak amal atau pengemis, yang kita pikirkan pastinya adalah ” Mau sih ngasih, tapi gak ada uang kecil buat dimasukin kotak amal itu.” atau ” Ih, orang masih sehat begitu kok ngemis.” atau ” Kira kira kalau gw nyumbang ke kotak amal itu, sampai gak ya sama yg berhak ?” Dan masih banyak alasan dan pikiran yang mempertimbangkan untuk berbuat sesuatu terhadap kotak amal dan pengemis itu.

Jika memang niat kita tulus ikhlas untuk mengisi kotak amal dan memberi pengemis itu, tak ada salahnya kita memberi sewajarnya, dalam jumlah yang pantas dari hasil yang baik juga dengan cara yang baik pula, untuk masalah tepat atau tidaknya kita memberi, Allah maha tahu segalanya, yang penting niat kita sudah ikhlas. Jika ingin memberi didikan terhadap pengemis, masih banyak cara lain yang lebih tepat tentunya. Jika kita tidak ingin memberi juga tidak masalah.

Contoh kedua, Ketika seseorang memperlakukan orang yang pernah menyakiti atau pernah merugikan, sudah pasti akan malas untuk berhubungan apalagi membantu orang tersebut dikala susah atau membutuhkan, yang ada malah mencemooh dan merasa puas, bukan? hal itu manusiawi untuk keadaan sesaat tapi setelah ditelaah lebih dalam, tak ada salahnya untuk kita tolong selagi kita mampu dan dengan kapasitas yang kita punya, masalah orang itu mau berlaku tidak baik atau tidak kepada kita, itu haknya, yang penting kita sudah melakukan yang sepatutnya, dan dengan apa yang kita lakukan itu mudah mudahan orang yang pernah menyakiti kita akan sadar dan merasakan dampak baik dari apa yg telah kita lakukan sehingga orang tersebut akan menjadi baik pula.

Contoh ketiga, ketika orang disekitar kita entah itu ketika sedang bertetangga, teman satu gedung perkantoran yang sering say hello, orangtua teman teman anak kita, atau siapa saja yang mungkin tidak begitu dekat dengan kita namun sering bertemu atau berpapasan.

Ketika mereka mengalami peristiwa penting dalam hidupnya seperti, berduka cita, melahirkan anak, sakit atau kecelakaan, kita tidak perlu mempertimbangkan bahwa mereka tidak begitu kenal kita lah, atau karena suatu saat khawatir tidak terbalaskan lah pada saat berniat akan menengoknya atau ketika harus memberikan dukungan moral kepadanya.

Kita datang saja memberi ucapan belasungkawa terhadap yang berduka, atau memberi ucapan selamat kepada yang melahirkan, dengan tidak memberi cendera mata atau apapun yang mahal, cukup dengan memberi ucapan atau sesuatu yang mampu kita berikan dengan kapasitas yang kita punya, maka mereka akan merasa nyaman, merasakan kasih sayang kita juga merasa dirinya diakui walau tidak terlalu dekat atau tidak begitu kenal kita.

Kesimpulannya, jika kita akan melakukan suatu perbuatan baik dan berguna, tidak perlu memandang kepada siapa atau bagaimana kondisinya, selagi kita mampu dan punya kapasitas untuk membantu atau melakukan sesuatu hal yang berguna, lakukan saja, karena dengan niat baik segala sesuatu tidak perlu dipertanyakan apakah hal itu akan berbalas atau hasilnya bagaimana, yang penting hati kita lapang maka dampaknya akan terasa baik sampai kapanpun, secara langsung kita rasakan maupun secara tidak tidak langsung.

Uncategorized

Belajar Berfilosofi untuk Solusi

Mengenal dan menelusuri berbagai ilmu di dunia ini sangat luas dan tak dapat terjangkau semua sisi ilmu itu, namun Allah Maha pengasih ya, sehingga kita diberi kesempatan untuk mengetahui apa yang kita ingin kita ketahui juga apa yang ingin kita pelajari, jika kita ada kemauan pasti ada jalannya.

Salah satunya mengenal ilmu filsafat, memang tidak mudah mengenal ilmu tersebut, banyak sekali bagiannya, ada filsafat islami, filsafat religi, filsafat excact, dan masih banyak lagi.

Awalnya saya sangat ogah dan tidak interest dengan ilmu yang satu ini, karena imagenya sudah berat, tetapi setelah membaca salah satu buku karya Emile Durkheim tentang Sosiologi & Filsafat, ada sesuatu yang meringankan juga membuat kita bisa berdialog dengan pemikiran penulis sehingga bisa menelusuri sesuatu lebih dalam tentang suatu hal.

Saya sangat merasakan bahwa dengan filsafat, kita bisa membedah suatu ide, pemikiran, anggapan tehadap segala hal dengan menjabarkan suatu masalah yang paling beratpun dengan berpikir, berdialog antara hati dan pikiran, melakukan perubahan dan tindakan, hingga tercapainya suatu solusi dan pemahaman.

Untuk mencerna buku dan artikel karya karya filsuf butuh pemahaman yang fokus dan perlu dibaca berulang agar dapat menemukan inspirasi yang lebih mantap dari sana.

Salah satu contoh berfilsafat untuk menemukan solusi adalah seperti kasus seorang istri yang merupakan teman dekatku juga, dia saat itu mengeluh karena dicuekin suaminya, menurut pengakuan si istri, ia sering melakukan kesalahan yang diulang ulang dan tidak pernah menyadari atau introspeksi diri.

Si istri ini merajuk rajuk dan meminta pendapat, kenapa suaminya sekarang sangat cuek dengan hal fatal yang ia lakukan sekalipun, jadi gak peduli dan memberi respon yang berdampak membuat si istri tidak dianggap sebagai istri sama suaminya.

Terus saya tanya, “Kamu sekarang sudah menyadari Jeng apa kesalahan dan segala yang sebelumnya kamu abaikan?” Dia jawab ” Maka dari itu, sekarang aku sudah menyadari sepenuhnya, dan aku sudah berusaha melakukan apa yang sesuai keinginan suamiku, tetapi dia masih saja berlaku cuek.”

Akhirnya saya berusaha memberi jawaban atas rasa gundah dan penasarannya itu sebisa mungkin, ” Jeng, jika kamu tidak dicuekin suami kamu dan tidak sedikit tegas mengingatkan kamu, sudah pasti kamu akan terlena terus dengan sikap sikap yang tak patut dan membuat tidak nyaman suamimu itu, karena sebelumnya suamimu sudah sering mengingatkan dan menegur kesalahanmu bukan?” ” Iya nih Jeng, kamu betul juga, setelah aku dikasih peringatan dengan cara yang bikin aku tertonjok begini, baru aku menyadari.” Jawab si istri agak murung.

Akhirnya saya kasih solusi agar si istri tidak putus asa dalam memperbaiki keadaan dengan cara terus menerus melakukan perubahan, melakukan hal yang membuat nyaman suaminya, mengabaikan hal yang tak disukai suaminya jika hal itu memang salah, dan tetap bersikap manis dihadapannya, saya bilang hal itu perlu waktu, tidak bisa terburu buru untuk melihat respon dan hasilnya, karena si suami pasti ingin melihat sampai dimana sikap istri bisa merubah hal yang tidak baik itu, yang si suami inginkan pastinya perubahan yang sungguh sungguh, bukan perubahan sesaat saja.

Beberapa minggu kemudian, si istri datang lagi saat weekend, ngajak hang out di salah satu tempat yang nyaman dan tak bising, dia menceritakan bahwa setelah ia melakukan revolusi sikap dan berusaha menempatkan diri sebagai istri yang didambakan suaminya namun tak mengorbankan haknya, dia sudah mulai terbiasa dengan segala perubahan itu dan mulai menikmati hasilnya, hubungan menjadi lebih harmonis dan setiap problema bisa diatasi karena selalu intens komunikasi dan selalu menjabarkan permasalahan dengan membedah segala sebab akibatnya.

Dari contoh kasus diatas, si istri sudah membedah argumen, pemikiran dan perubahan yang ia rasakan, ia sudah mampu menjabarkan permasalahan sebab akibatnya secara berurut dan kronologis, hingga timbul jawaban dan solusi, juga tahu apa yang patut ia lakukan untuk memperbaiki keadaan yang ruwet menjadi comfort.

Untuk belajar dan memakai ilmu filsafat ternyata tidak harus menempuh sarjana filsafat dulu atau menjadi filsuf semacam machiaveli, aristoteles atau siapapun, kita bisa memetik manfaat ilmu ini dari membaca , hal yang terjadi pada kehidupan sehari hari atau dari apa saja, selalu ada inspirasi untuk menyelesaikan masalah dengan filosofi.

Uncategorized

Adopsi kiat si pengembara

Seminggu belum update, habis ngikutin si pengembara berkeliling sisi sisi dunia, he..he…just kidding, ini nih hasil petikan ilmu dari si pengembara itu.

Pengembara biasanya punya sikap yang simple, efisien dan cenderung punya tujuan pasti walau sifatnya nomaden.

Bagi kita yang punya rutinitas, tempat tinggal tetap, punya tempat berlabuh dalam hal apapun juga cenderung suka ingin menaruh dan menimbun hal yang kita sukai dirumah atau dalam diri, pasti sikap sangat berbeda dengan sikap si pengembara, baik dari segi tujuan hidup maupun bagaimana cara menjalani hidup.

Kecenderungan sikap bagi kita pada umumnya yang bukan pengembara, sering tidak menyadari apa tujuan dari menggunakan waktu maupun sesuatu yang kita punya, saling berlomba meraih harta , jabatan , kekuasaan, kasih sayang, pengakuan, eksistensi dan lain sebagainya dengan tidak bijak.

Terkadang sesuatu yang salah dianggap biasa karena kebiasaan orang banyak dan sudah menjadi budaya, dengan kata lain “Menghalalkan segala cara”.

Akibatnya jika terlalu ambisi atau ingin seperti orang kebanyakan, namun ambisi tidak tercapai, maka kecewa dan rasa menyiksa jiwa akan menggerogoti mentalnya dalam menghadapi hidup.

Kiat agar hal itu tidak perlu terjadi, kita bisa ikuti cara si pengembara, yaitu :

1. Tidak menganggap apa yang kita punya adalah sesuatu hak mutlak milik kita, apapun itu.

2. Berbuat sebaik mungkin pada setiap orang yang ada disekitar kita, karena belum tentu kita akan selamanya bersamanya agar tak terjadi penyesalan ketika berpisah kelak.

3. Menjalankan waktu pada hari ini tidak dicampur aduk dengan masa lalu dan masa datang yang belum pasti, sebab kualitas waktu bisa ditentukan dari berada penuh pada waktu sekarang dan fokus melakukan apa yang patut dilakukan pada saat sekarang.

4. Jika punya niat baik segera laksanakan agar tidak dihadang halangan yang berarti akan membatalkan niat baik itu.

5. Jika sempat untuk melakukan sesuatu hal yang mampu dilakukan pada saat ini, lakukan saja, agar suatu saat ada sesuatu hal yang urgent atau hambatan, sesuatu itu sudah siap.

6. Jangan menunda suatu urusan jika tidak ada halangan

Dengan melakukan dan menerapkan kiat yang positif dari si pengembara, kita akan sadar sepenuhnya bahwa kita pun dibumi ini adalah seorang pengembara juga hanya berbeda ruang, waktu , konsisi dan peradaban saja.

Sudah jelas tujuan kita yang tetap adalah kembali pada Nya, dan kita mulai dari sekarang akan bisa menempatkan segala sesuatu yang menjadi jalan hidup kita bermakna, berkualitas dan bermanfaat buat diri maupun orang lain.

Jika kiat si pengembara sudah bisa kita lakukan, kita akan merasakan ketenangan juga plong dalam menghadapi apapun itu, karena kita sudah siap juga tidak was was karena masih meninggalkan sesuatu yang masih urusan kita.

Oh ya, kata si pengembara, ” Salam ya buat teman teman Blogger he..he..he…”

Aku jawab ” iya aku pasti sampaikan.”