Uncategorized

Ayo Rukun Untuk Indonesia Satoe!!

SOEMPAH PEMOEDA

PERTAMA.

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH-DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KEDOEA.

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA.

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATUAN, BAHASA INDONESIA.

Dan saya sebagai pemuda Indonesia berjanji akan konsisten dengan pernyataan sumpah diatas, dengan berbuat sesuatu yang dapat membuat seluruh rakyat Indonesia rukun dan saling menghargai satu sama lain baik dengan cara sederhana maupun berbuat sesuatu yang semaksimal mungkin.

Merinding dan haru dengan pernyataan sumpah pemuda yang dibuat tahun 1928 itu, bagaimana tidak? Berpuluh juta rakyat, beribu pulau dan beraneka suku bersatu dalam sebuah komitmen, suatu hal yang patut dijadikan teladan dan kita pelihara serta kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kenyataan yang terjadi saat ini gaung sumpah itu terasa tidak ada getaran dan maknanya dalam hati pemuda sekarang, kenapa saya bisa berpendapat seperti itu? tidak usah jauh jauh dengan perang antar suku atau antar agama, disekitar rumah saya didaerah Pamulang, terdapat beberapa Sekolah SMP dan SMA, pernah suatu waktu saya pulang kerja bukan hanya satu kali saja mendapati anak berseragam membawa golok, arit, besi dll sambil bergerombol mau menyerang sekolah yang menjadi lawannya, bukan karena hal besar namun karena hal sepele, yaitu anak perempuan dari sekolah penyerang digoda oleh beberapa anak lelaki dari sekolah yang diserang, gara gara hal sepele itu saja bisa baku hantam dan mempertaruhkan nyawa bukan demi nama baik sekolahnya namun demi gengsi dan sok jagoan, karena otomatis menjadi pusat perhatian masyarakat.

Contoh yang kedua adalah ketika bulan Ramadhan kemarin penduduk yang berbeda kecamatan saling menyerang pula penyebabnya karena anak anak dari yang satu kecamatan melempar petasan ke tempat warga kecamatan lain,

Dari hal diatas sudah jelas bahwa dalam jiwa pemuda pemudi sudah mengedepankan rasa ego dan mementingkan kepentingan individu dan kelompok, pemecahan masalah dengan diskusi, musyawarah untuk mufakat rasanya sudah tidak terpakai lagi, sangat disayangkan memang.

Padahal untuk membuat hidup rukun antar bangsa dan masyarakat, kita tidak perlu berbuat hal yang berat atau susah, cukup dengan melakukan hal yang penuh empati disekitar kita bernaung dan mengakui bahwa orang disekitar kita adalah saudara kita yang patut dijaga pula perasaannya karena berada dalam satu atap yaitu nusantara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s