Uncategorized

Bekal yang tak pernah habis

Kini pada saat saya menjadi orangtua dari putri semata wayangku, baru menyadari dan mulai berpikir untuk bekal masa depannya kelak. Bekal dalam segala hal baik pondasi dasar agama, pendidikan juga materi untuk berbagai kebutuhannya, tak dipungkiri tiga komponen itu sangat penting bagi siapapun untuk bekal dimasa sekarang maupun masa depan.

Saya cenderung mengikuti langkah dan cara kakek dan orangtua saya dulu yang menekankan pada pentingnya perbekalan ilmu agama dan ilmu disekolah, karena dengan ilmu dimanapun kita berpijak rezeki tak sungkan sungkan menghampiri, jika kita menitik beratkan pada pengumpulan perbekalan materi, akan banyak dampak kekurangan pada si anak yaitu ;

1. Si anak akan bersikap tidak ada usaha karena merasa orangtuanya sudah bisa diandalkan sampai kelak ia dewasa, jadi tidak ada dorongan untuk belajar giat supaya punya nilai bagus dan lulus dengan gemilang.

2. Dengan bekal dominasi materi akan bersifat sementara saja karena sewaktu waktu bisa habis jika tidak ada upaya untuk menambah perbekalan dari berbagai sumber, kalau ada syukur tapi kalau sedang paceklik apa yang diandalkan sebab hidup tidak akan selamanya dengan orangtua dan tidak akan selamanya mengandalkan orang lain.

Masih terekam dalam ingatan saya dulu sewaktu SMP saya sudah diajarkan mandiri dan jika tanya sesuatu dalam keseharian pertanyaan ” Kamu sudah makan belum?” hal itu jarang ditanya, yang sering mendominasi adalah ” Kamu sudah sholat belum?” atau “Belajarnya sudah cukup belum hari ini, PR dan tugas jangan lupa?”

Dan bekal sekolah pada saat itu tahun 1991 aku SMP untuk jajan tak lebih dari Rp.100,- karena dibiasakan untuk berhemat dan menyisihkan kelebihan uang untuk beli buku paket pelajaran yang pada saat itu adalah barang lux di sekolahan, atau sebagian uang jarang dibelikan barang barang yang diinginkan karena disarankan lebih baik untuk biaya kegiatan ekskul disekolah atau ikut les tambahan.

Dampak baiknya memang sangat saya rasakan, selain diri sangat termotivasi untuk belajar lebih giat agar kelak mendapat pekerjaan yang bagus juga bisa dihargai orang lain, maka didikan dari kakek juga orangtua saya tak sia sia, memang betul dengan berbekal ilmu hidup pun terarah dan punya pegangan yang tak pernah ada habisnya, dan perbekalan ilmu itu tak berat untuk dibawa bawa kemanapun juga, namun bisa membuat kita menghasilkan sesuatu dan memenuhi kebutuhan hidup baik rohani maupun jasmani.

Dengan bekal ilmu agama, kelak anak pun akan punya pondasi dan filter agar terhindar dari segala kecurangan juga pelanggaran baik kepada Yang Maha Kuasa maupun terhadap sesama, rasa tanggung jawab sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Nya.

Dengan ilmu dari sekolah dan perguruan tinggi atau belajar secara autodidack, bisa membuat anak kelak mempunyai keahlian atau kemampuan dalam hal hidup bermasyarakat juga memperoleh pekerjaan atau usaha yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya kelak.

Imu Agama maupun sekolah dimanapun juga sudah mayoritas mampu, namun kualitas dan sikap yang betul betul belajarnya itu yang lebih penting, dan sebagai orangtua harus bisa mengarahkan dan membimbing anak untuk lebih cenderung kepada beribadah dan belajar yang tepat dan giat dan harus memberi pengertian kenapa hal ini harus dilakukan, agar si anak ada gambaran dan bisa memacu diri.

Jaman sekarang banyak orangtua cenderung memenuhi kebutuhan anak dengan materi karena merasa bersalah dia tidak dapat memenuhi dengan kebersamaan karena bekerja, atau berpikir bahwa ” Anakku jangan seperti aku yang dulu kekurangan, anakku harus mendapat segala apa yang diinginkannya.” Berpikir seperti ini tidak salah dan itu hak orangtua untuk menyenangkan anaknya namun kitapun harus berpikir dampak kedepannya, bahwa anak akan terbiasa dengan pemenuhan keinginannya sampai kelak dewasa, sedangkan anak suatu saat dituntut untuk mandiri, jika anak tidak bisa mandiri hal ini akan berdampak bahwa sianak tidak akan terbiasa dengan hal hal yang harus ia usahakan sendiri dan ini akan membuat rasa tidak nyaman pada si anak, jadi tak ada salahnya jika anak dilatih mandiri sejak dini dan dititik beratkan untuk dibekali ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya, karena ini lebih dari sekedar bekal.

Dalam hal ini bukan berarti materi tidak perlu, tidak dipungkiri sangat perlu dan harus ada, tapi tidak perlu dibiasakan untuk menyuplai kebutuhan anak secara berlebihan dan jika anak menginginkan barang barang yang dirasa kurang perlu tidak usah memfasilitasinya, seperti pemakaian HP untuk anak dibawah usia kuliahan, kecuali jika sedang urgent dalam satu kepentingan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s