Uncategorized

Batavia 482th in my mind

Mendengar kata “JAKARTA” sudah terbayang gedung tinggi bertingkat, artis artis ibu kota, preman dan pencopet, rumah kumuh pinggir bantaran kali, air sungai yang berwarna hitam pekat seperti semir tak mengalir pula karena sampah sampah menemani berdesakan disungai itu.

Gak terbayang sejak kecil bahwa aku akan setiap hari melewati monas, tugu selamat datang di Pancoran, Bunderan HI dengan air mancurnya yang glamour, jalan jalan ke mal mal megah dan nongkrong di Blok M plaza. Dulu cuma terlihat di televisi.

Tak terbayang pula aku bisa mengalami kebanjiran ketika kost di daerah Jl.Latumenten Grogol Jakarta Barat, rasanya punya uang banyakpun tak berarti apa apa saat banjir itu karena sengsara banget selain gak bisa keluar dan terkurung diloteng, makanan juga sulit didapat, air dan listrik mati, duhhh rasanya mau kiamat deh saat itu.

Siapa suruh datang Jakarta ya ? He..he….dalam lagu itu kesindir deh aku tapi gimana lagi ya rezekinya ada di Jakarta mau gimana lagi? mau balik lagi ke Bandung juga rasanya gak ada Hoki, ceileeee…….

Tinggal di Jakarta selama 4 tahun sebelum pindah kerja Di Pamulang Tangerang sangat mematangkan mentalku yang dahulu lemah lembut jadi agak punya nyali karena dulu terlatih naik turun Metromini dan Kopaja secara cepat, bayangin turun dari Metromini yang gak mau berhenti total, si Kondektur teriak kaki kiri….kaki kiri…dulu, tetap aja nervous mana waktu tahun 2003 itu lagi hamil pula.

Udah gitu jangan harap disetiap sudut ada orang orang yang siap melayani pertanyaan kita dengan ramah seperti di Kota kelahiranku Bandung, yang ada juga rata rata melengos, ada yang jawabpun sekenanya, yang baik juga ada sih, nah dari pengalaman kesan pertama itu aku gak ikut ikutan bergaya cuek tapi aku empathy sama orang orang yang kelihatan baru di Ibu kota karena aku takut hukum karma di jutekkin orang hi..hi…

Daripada males tanya sana sini akhirnya aku nekat kalo jalan jalan sendirian menyusuri rute metromini dan angkot, kalo nyasar ikut aja sampe terminal dari situ cari lagi jurusan yang dituju mulai dari Terminal Kampung Rambutan yang dulu adalah Terminal Cililitan, Lebak Bulus, Pulo Gadung, Kalideres, Blok M, UKI, Tanjung Priok, Manggarai, Pasar Minggu, Kampung Melayu.

Jakarta telah memberi rezeki, kesempatan dan hidup buatku namun Jakarta bukan target utama untuk menghabiskan masa tua ku.

Untuk pembangunan Jakarta Raya aku harap dapat seimbang dengan populasi yang ada di Ibu Kota, bukan hanya bangunan dan sarana saja yang dibangun dan dikembangkan namun Sumberdaya manusia, Lingkungan yang sehat juga moral penduduknya.

SELAMAT ULANG TAHUN JAKARTA KE 482

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s